Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus Kristus,
Ada ungkapan dalam Bahasa Inggris yang mengatakan Home Sweet Home. Secara harafiah berarti rumah yang manis. Tetapi juga dapat diartikan sebagai rumahku adalah adalah istanaku, rumahku adalah surgaku atau juga dapat diartikan rumahku adalah tempat yang paling terindah dan ternyaman bagiku. Ungkapan ini juga dapat dimaknai suatu keadaan di mana seseorang yang bepergian baik dalam jangka waktu yang singkat misalnya ke tempat kerja, ke sekolah ataupun dalam jangka waktu yang lama ke luar daerah atau ke suatu tempat yang jauh dan akan selalu merindukan rumahnya. Rumah tempat tinggal bagi setiap penghuninya adalah tempat ternyaman, terbaik dan terfavorit baginya. Walaupun memang harus diakui bahwa terkadang ada hambatan, tantangan bahkan godaan untuk menghadirkan suasana yang nyaman itu di rumah kita. Kita sering mendengar atau mungkin mengalaminya di mana suasana rumah keadaannya tidak baik-baik saja. Ada kekerasan, ketidakharmonisan, kebohongan atau kepalsuan yang dapat mengahdirkan bencana atas rumah kita. Belum lagi pengaruh orang luar yang tidak tinggal dalam rumah yang sama tempat di mana kita tinggal, tetapi kemudian menghadirkan kekisruhan di rumah yang kita diamai. Hal-hal seperti ini tentu saja tidak boleh kita biarkan terjadi.
Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus Kristus,
Karena itu sebagai umat Tuhan, suasana rumah yang home sweet home tidak boleh dilepaskan dari kehadiran Tuhan Allah. Agar keharmonisan, kebahagiaan yang mendatangkan damai sejahtera itu tetap teralami oleh seisi rumah. Berbicara tentang rumah tempat kita tinggal, berarti juga berbicara tentang rumah kita bersama sebagai warga GMIM. Rumah bersama yang harus kita jaga keharmonisan serta keutuhannya. Dalam keragaman setiap penghuni rumah bersama dalam GMIM kita harus menjaga kekompakan untuk terus bersynhodos (berjalan bersama). Berjalan bersama bukan berarti saling mendahului dan berusaha paling cepat tiba di tujuan. Tetapi bagaimana gerak langkah bersama beriringan dengan terus memperhatikan satu dengan yang lain. Sehingga perjalanan bersama ini pun tiba bersamaan dalam satu gerak langkah sebagai gereja yang terus bersekutu, bersaksi dan melayani. Perjalanan bersama ini tentu punya tujuan yaitu sebagaimana tema perenungan di Hari Ulang Tahun GMIM Bersinode ke-92 ini: “Diam Dalam Rumah Tuhan Sepanjang Masa”. Suatu perjalanan yang indah tetapi juga tidak boleh dilupakan oleh kita bahwa perjalanan ini bukan karena kekuatan kita tetapi karena Tuhan Allah yang menuntun dan menggembalakan kita.
Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus Kristus,
Diam Dalam Rumah Tuhan Sepanjang Masa adalah suatu refleksi pemazmur, dalam hal ini Raja Daud tentang kebaikan Tuhan Allah baginya dalam proses kehidupannya. Dia menuliskannya menjadi mazmur yang indah yang sangat disukai oleh semua orang percaya dalam segala keadaan, baik saat ada dalam pergumulan hidup ataupun dalam suasana sukacita. Semua orang percaya pasti tahu tentang Mazmur 23:1-6. Raja Daud mengawalinya dengan mengatakan di ayat 1: TUHAN adalah gembalaku (Ibr. Adonai ro`i), takkan kekurangan aku (Ibr. lo ’ekhsar, dapat juga diartikan aku tidak memiliki kebutuhan). Dari ayat 1 Raja Daud hendak mengatakan ketika Tuhan Allah yang menjadi gembalanya maka tidak ada lagi yang dia butuhkan. Raja Daud merasakan dalam kehidupannya bahwa saat Tuhan Allah menjadi gembalanya segala sesuatu cukup baginya dia tidak berkeinginan yang lain. Hal ini menjadi lebih jelas saat kemudian Raja Daud mengatakan di ayat 2-6a. Ia membaringkan (Ibr. rabats) aku di padang (Ibr. na’ah, tanah gembalaan) yang berumput hijau (Ibr. deshe’, rumput muda yang segar), Ia membimbing aku (Ibr. nahal, menuntun sebagai pemimpin) ke air yang tenang (Ibr. mayim menukhat, ke air yang menenangkan dan melegakan yaitu air yang mengalir tenang); Ia menyegarkan (Ibr. yeshobeb, memulihkan) jiwaku (Ibr. nefesh). Ia menuntun (Ibr. yanheni, memimpin) aku di jalan yang benar (Ibr. ma`gal tsedeq, jalan yang adil/lurus) oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan (Ibr. halak, pergi) dalam lembah kekelaman (Ibr. tsalmavet, lembah kelam pekat), aku tidak takut bahaya (Ibr. lo yare’ ra`, tidak takut pada yang jahat/malapetaka), sebab Engkau besertaku (Ibr. `immad, menyertaiku/di dekatku); gada-Mu (Ibr. shebet) dan tongkat-Mu (Ibr. mish`enah, tongkat dari kayu), itulah yang menghibur (Ibr. nakham) aku. Engkau menyediakan (Ibr. `arak, mengatur/menyajikan) hidangan bagiku, di hadapan lawanku (Ibr. tsarar, seteruku); Engkau mengurapi (Ibr. dashen, kata ini dapat diartikan kemakmuran/kelimpahan) kepalaku dengan minyak (Ibr. ro’sh shemen); pialaku (Ibr. kow) penuh melimpah (Ibr. rewayah). Kebajikan (Ibr. tov, kebaikan/ kebahagiaan) dan kemurahan (Ibr. khesed, kasih setia) belaka (Ibr. ’ak, sesungguhnya) akan mengikuti aku (Ibr. radap, mengejar aku), seumur hidupku (Ibr. kol yom khay, segala hari hidupku). Penyertaan serta ketersediaan segala sesuatu yang baik oleh Tuhan Allah bagi Raja Daud sekalipun ia harus melewati proses kehidupan yang tidak mudah, membawanya untuk selalu merindukan kembali pulang ke rumah Tuhan Allah dan berdiam di sana. Hal inilah yang kemudian dikatakan di ayat 6b: dan aku akan diam (Ibr. yashab, menetap) dalam rumah TUHAN (Ibr. bayit Adonai) sepanjang masa (Ibr. orek yom).
Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus Kristus,
Hari Ulang Tahun GMIM bersinode ke – 92 saat ini, hendak mengingatkan kita semua untuk terus hidup dalam pimpinan Yesus Kristus. Kepala Gereja, Gembala yang Agung. Rindukanlah selalu kediaman-Nya dalam kehidupan imanmu dengan terus mencintai gerejamu GMIM. Sekalipun mungkin kita akan melewati berbagai macam cobaan, hambatan dan pergumulankita tidak akan takut sebab gada dan tongkat-Nya akan selalu membawa gereja-Nya berproses dalamnya dan tampil sebagai pemenang. Jangan pernah ragu serta khawatir berjalan dalam kehendak-Nya. Teruslah melangkah dalam jalan-Nya dalam kebersamaan di tengah keragaman untuk terus menjadi alat kesaksian Tuhan Allah bagi dunia. Sebagaimana ungkapan lirik lagu mars GMIM yang mengatakan ‘meski badai gelombang menghadang, maju terus untuk kemuliaan-Nya.’
Selamat mempersiapkan diri untuk memasuki pemilihan Pelayan Khusus, selamat memilih gembala yang akan menuntunmu seperti Yesus Kristus dan selamat HUT GMIM bersinode ke-92 tahun. Soli Deo Gloria. Amin.




















