Jemaat Tuhan,
Tidak terasa perjalanan tahun 2025 akan usai. Senang rasanya bisa menjalani 364 hari dengan segala dinamikanya akan segera berlalu. Suka-duka dan pahit-manis, biarlah itu seperti bumbu, agar hidup tidak terasa hambar. Akhir tahun ini adalah moment tepat berefleksi tentang penyertaan Tuhan Allah yang sempurna sebagai jembatan menuju tahun 2026.
Mari belajar dari pengalaman dahsyat pemazmur dalam menghadapi masa-masa mencekam, situasi tragis yang mengancam nyawa, rasanya sukar dilewati jikalau bukan Tuhan Allah yang melindungi. Daud menulis Mazmur ini ketika situasinya sedang tidak baik, terkungkung, seorang diri terancam oleh musuhnya. Situasi sulit menyulitkan hidup dan butuh kiat jitu agar kesulitan tidak membelenggu. Sebagaimana Raja Daud, janganlah hidup kita fokus pada masalah. Kekuatiran dan ketakutan adalah hal biasa, tapi tidak boleh dibiasakan. Tetaplah optimis menghadapi tantangan hidup.
Jemaat Tuhan,
Kita semakin rentan dengan ancaman terhadap keberlangsungan hidup di dunia modern. Jika kita ingin mengalami perlindungan Tuhan Allah yang nyata, rumusnya adalah takutlah pada-Nya dan hidup dalam firman-Nya. Ini adalah pilihan bijak dan solusi tepat. Pemazmur teruslah melihat anugerah Tuhan Allah bukan besarnya masalah.
Mazmur 19:2-7 berbicara tentang pengakuan iman sang pemazmur bahwa pengetahuan yang diperoleh manusia dari alam semesta akan mencerminkan kemuliaan Tuhan Allah. Ini adalah deklarasi iman, bahwa manusia takjub dengan karya-Nya. Bumi dan galaksi-galaksi lain yang bergerak dengan teratur dalam keseimbangan menunjukkan betapa hebat kuasa Tuhan Allah yang mencipta semuanya. Tuhan Allah tidak hanya berkuasa tapi Mahakuasa. Ia tidak menggunakan kekuasaan-Nya itu dengan semena-mena, tetapi untuk mendatangkan kebaikan dan sukacita atas seluruh ciptaan. Bumi ini adalah rumah bersama, perlu dijaga supaya kemuliaan Tuhan Allah nampak, dan jaminan berkat-Nya senantiasa mengalir ke setiap generasi (band ay 2-3).
Jemaat Tuhan,
Gereja diingatkan bahwa dunia post-modern tengah berhadapan dengan kian hebat kerusakan alam dan masifnya krisis lingkungan. Manusia semakin kehilangan nilai moral dan sikap etis dalam memanfaatkan alam ini. Bagi warga gereja, krisis lingkungan adalah krisis iman, artinya manusia tidak melihat Tuhan Allah sebagai pencipta dan pemilik semesta ini dan menguasai alam ini dengan keserakahan. Iman yang sejati tidak mungkin menghasilkan sifat jahat terhadap lingkungan dan alam. Ironinya manusia tega menghacurkan rumahnya sendiri (bumi ini) dan menghancurkan masa depannya. Ini jauh dari sikap iman yang ditunjukkan pemazmur.
Hanya dengan sikap berserah seutuhnya pada kuasa dan bimbingan-Nya, orang percaya akan menemukan rasa tenang dan damai yang benar. Jika kita menjadikan Yesus Kristus sebagai pusat perlindungan maka harus diikuti dengan ketaatan yang radikal menghadapi bahaya yang mengancam (kecelakaan, bencana, penyakit, konlik dan perang).
Jemaat Tuhan,
Ketika Daud sanggup membangun Tembok Yerusalem dengan pintu gerbang dan menara jaganya yang kokoh, ternyata itu bukanlah tempat perlindungan aman. Kereta dan kuda, serta senjata perang yang handal, juga bukan jaminan perlindungan sejati, semua itu rapuh dan mudah dikalahkan. Ia pun akhirnya paham bahwa janganlah membuat perlindungan semu yang malah riskan dengan berbagai bahaya. Berharap pada kekuatan militer untuk menemukan rasa tentram dan aman adalah gagasan keliru, optimisme sesat. Realita membuktikan bahwa senjata perang akan berdampak buruk pada alam apalagi bagi manusia. Senjata miiter malah menjadi pemusnah terhadap keberlangsungan hidup manusia. Dosa dan kejahatan membuat dunia semakin parah dan manusia semakin merana.
Pemazmur sering menyebut Tuhan Allah adalah adalah bukit batu = kubu pertahanan, gunung batu = tempat berlindung, perisai dan kota benteng. Bukit batu, gunung batu, kota benteng adalah deretan frasa yang menerangkan sarana Tuhan Allah untuk melindungi manusia. Alam sepantasnya memberi rasa aman dan sukacita bukan sebaliknya. Persektif iman yang seharusnya membuka wawasan hidup banyak orang untuk sadar tentang keberadaannya di dunia.
Jemaat Tuhan,
Aspek yang tak kalah pentingnya ditunjukkan oleh pemazmur adalah hidup menurut firman Tuhan (teks menyebut: Taurat, Peraturan, Titah dan Perintah dan Hukum-hukum Tuhan). Ini adalah daya tahan yang memampukan sang pemazmur menghadapi situasi sulit. Ia menyebut: Taurat Tuhan itu sempurna menyegarkan jiwa. Peraturan Tuhan itu teguh dan memberi hikmat dan menyukakan hati. Perintah Tuhan itu murni, membuat mata bercahaya. Hukum-hukum Tuhan itu benar dan adil. Nilai yang terkandung dalam ketaatan akan Firman Tuhan sangat berharga bahkan melebihi emas tua (ayat 11a,TB 2 menerjemahkannya) emas murni. Firman Tuhan tidak boleh direduksi oleh apapun bentuk kesulitan hidup. Yesus Kristus mendemonstrasikan bahwa Ia menderita sengsara, disalibkan bahkan sampai mati dan tetap setia mengikuti kehendak Sang Bapa. Melakukan firman akan melindungi orang percaya agar hidupnya tidak dirampas oleh keinginan yang mencelakakan
Jemaat Tuhan,
Sebagai warga GMIM kita bersyukur karena GMIM bukan hanya gereja lokal tapi kini menjadi gereja global. Predikat ini harus mendorong warganya menjadi pelaku Firman, pelaku budaya damai, menginspirasi sesama agar menjadi umat yang saling mengasihi, saling menjaga. Sikap ini akan melindungi warga gereja dari konflik horisontal dalam masyarakat majemuk. Perlu diingat, kemajemukan adalah bingkai kebersamaan, anugerah berharga Tuhan Allah agar jangan menjadi egois dan serakah terhadap yang lain. Sebaliknya berupayalah rukun dan harmonis sekalipun berbeda dan beragam. Inilah bekal berharga di penghujung Tahun 2025 yang akan segera berlalu dan tahun 2026 yang masih sebuah misteri. Apa jaminan bagi kita untuk memasukinya? Seruan pemazmur adalah seruan bagi kita sekaligus menjadi harapan bersama: Ya Tuhan Lindungilah Hamba-Mu. Sebab hanya di dalam DIA kita akan temukan rasa aman yang sejati Amin




















