ALASAN PEMILIHAN TEMA
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat memberi keuntungan dan manfaat bagi manusia. Namun demikian, kemajuan ini juga membuka jalan bagi manusia untuk jatuh ke dalam berbagai dosa dengan cara yang mudah, cepat, dan murah. Konsekuensinya demikian besar. Ada banyak anak muda yang menjadi terikat oleh pornografi dan tidak sedikit orang yang terjerat judi online. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimaksudkan untuk menolong manusia dalam segala sesuatu yang dilakukannya, justru dapat menjadi jerat bagi manusia dan pada akhirnya merusak hidup banyak orang. Gereja yang dihadirkan Allah di tengah dunia ini pun tidak kebal terhadap hal-hal yang sifatnya merusak ini. Itulah sebabnya gereja perlu secara terus-menerus memperlengkapi umat Allah agar menyadari identitas dan tugasnya di tengah dunia ini. Dengan menyadari identitas dan tugasnya, gereja dapat menerangi dunia yang semakin gelap oleh dosa, dan dengan demikian dapat menjadi berkat bagi banyak orang di tengah arus kemajuan IPTEK yang terus berkembang dengan segala manfaat positif dan dampak negatifnya. Inilah alasan yang mendasari tema, “Hiduplah sebagai Anak-Anak Terang.”
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)
Surat Efesus ditulis dengan pola yang khas. Penulis pertama-tama menjelaskan tentang identitas yang baru dari setiap orang percaya yang telah berada di dalam Kristus. Frasa “dalam Kristus,” “dalam Tuhan,” dan “dalam Dia” muncul sebanyak 36 kali dalam surat Efesus. Identitas di dalam Kristus telah memberikan keistimewaan kepada setiap orang percaya, yakni disebut sebagai anak-anak yang kekasih dalam hubungan dengan Tuhan (ay. 1). Keistimewaan ini sekaligus memberikan standar hidup yang tinggi dalam hidup sebagai orang percaya. Setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi penurut-penurut Allah (mimetai). Hidup mengikuti, mencontoh, dan menuruti Allah dalam seluruh kehidupan yang dijalani. Hal ini menjadi mungkin karena identitas di dalam Kristus membawa perubahan dalam hidup seorang Kristus, dari sifat yang lama kepada sifat yang baru (lih. Efesus 4:22-24). Menuruti Allah berarti hidup di dalam kasih (ay. 2). Penulis menggunakan kata peripateite (berjalan) mendahului kata agape (kasih) yang memunculkan pengertian bahwa seorang Kristen harus berjalan dan terus berjalan di dalam kasih, yakni sebagaimana Kristus dan kasih-Nya di Golgota. Kristus yang menyerahkan diri-Nya itu telah menjadi persembahan (prosphoran) dan korban (thysian) yang harum bagi Allah. Penulis kemudian berbicara dengan spesifik tentang hal-hal yang bahkan “disebut saja pun jangan di antara kamu” (ay. 3). Perintah untuk tidak menyebut dosa bukan berarti seorang Kristen tidak boleh mengidentifikasi dosa-dosa tertentu dalam kehidupan. Bila sebuah dosa tidak boleh disebutkan, apalagi untuk dilakukan. Penulis menegaskan hal ini kembali pada ayat 12, “Sebab menyebutkan saja pun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.” Penulis menunjuk pada percabulan (porneia), kecemaran (akatharsia), dan keserakahan (pleonexia). Tidak melakukan hal-hal ini adalah yang sepatutnya dan yang selayaknya (prepó) bagi seorang Kristen dengan identitas barunya sebagai orang-orang kudus. Pada ayat 4, penulis kemudian berbicara tentang apa yang tidak pantas (aneken), yang tidak sepatutnya dan tidak selayaknya dalam hidup orang-orang kudus, yakni perkataan yang kotor (aischrotes), yang kosong (morologia) atau yang sembrono/ tidak pantas (eutrapelia). Semua ini menunjuk pada perkataan-perkataan yang memalukan, yang tidak didasari hikmat, dan lelucon kasar yang didasari pada niat cabul. Penulis sebaliknya meminta jemaat untuk mengucapkan syukur. Bibir yang mengucap syukur kepada Allah akan terhindar dari mengucapkan hal-hal yang memalukan tadi.
Penulis kemudian berbicara dengan nada tegas pada ayat 5 untuk memperingatkan orang-orang yang hidup dalam dosa percabulan, kecemaran, dan keserakahan. “Karena ingatlah ini baik-baik”, “tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.” Dosa keserakahan ditekankan sebagai dosa penyembahan berhala. Inti dari keserakahan adalah pemenuhan hasrat di dalam diri. Hal ini menunjukkan kesamaan saat seorang kafir menyembah dewanya, di mana ia mengharapkan semua hasrat yang dimintanya dari berhala itu agar terpenuhi. Orang-orang yang melakukan hal-hal ini bisa saja menjadi bagian dari jemaat Kristen, namun bila tidak bertobat mereka tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Sayang sekali bahwa ada orang-orang yang berusaha meyakinkan jemaat Kristen bahwa gaya hidup berdosa yang dijalani tidak akan mendapat hukuman. Guru-guru palsu ini nyata pada orang-orang Kristen libertini yang merayakan kebebasan dalam dosa, pengajar-pengajar Gnostik yang hanya menekankan segi roh manusia sehingga boleh menikmati dosa dalam tubuh, juga orang-orang Yahudi dan Yunani yang tidak bertobat dengan segala pengajaran yang mereka bawa ke dalam jemaat Kristen. Apa yang mereka lakukan mendatangkan murka Allah dan karena itu jemaat diminta supaya tidak berkawan dengan mereka (ay. 6-7).
Penulis kemudian menekankan identitas dari jemaat Kristen dengan menggunakan analogi terang dan gelap sebagai dua hal yang menunjukkan pertentangan antara yang baik dan yang jahat. Sebagaimana dalam Efesus 2:2, penulis menekankan kontras antara “memang dahulu kamu” dan “tetapi sekarang kamu.” Orang percaya dalam hidupnya yang lama memang berjalan dalam kegelapan, namun dalam hidupnya yang baru telah disebut sebagai terang di dalam Tuhan (ay. 8). Hal ini karena orang percaya telah diselamatkan oleh Yesus yang disebut terang dunia dan karenanya orang percaya dipanggil untuk berjalan dan terus berjalan sebagai anak-anak terang, menjadi terang dunia. Berjalan di dalam terang pada akhirnya selalu berbuahkan kebaikan (agathosyne), yang menunjuk pada kemurahan yang dilakukan secara produktif, lalu berbuahkan keadilan (dikaiosyne), yakni melakukan apa yang benar dan adil dalam hubungan dengan Allah dan manusia, lalu berbuahkan kebenaran (aletheia), yakni kebenaran Allah yang nyata dalam kehidupan setiap hari. Panggilan untuk berjalan dalam terang diikuti panggilan untuk menguji apa yang berkenan kepada Tuhan (ay.9-10). Kata “menguji” (dokimazontes) mengandung panggilan untuk “dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Penulis meminta jemaat untuk jangan turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, melainkan untuk menelanjangi perbuatan-perbuatan itu (ay.11). Menelanjangi (elengchete) berarti menyatakan apa yang jahat sebagai yang jahat. Hal ini pasti terjadi karena sifat dari terang itu sendiri yang membuka dan menyatakan apa yang ada dalam kegelapan (ay. 13). Penulis kemudian menuliskan kalimat yang sangat mungkin dikutip dari Yesaya 26:19 dan 60:1 yang kemudian dibahasakan secara Kristosentris, “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu” (ay. 14). Ini mendorong jemaat Kristen untuk melanjutkan perjalanannya bersama dengan Tuhan, bukan hanya berjalan dan terus berjalan di dalam kasih dan di dalam terang tetapi juga berjalan di dalam hikmat. Hal ini nyata karena kata peripateo (berjalan) muncul kembali dalam ayat 15, yang diterjemahkan LAI dengan kata “hidup,” yakni hidup seperti orang arif dan bukan seperti orang bebal. Itu berarti orang percaya harus berjalan dalam hikmat. Bagaimana seseorang berjalan dalam hikmat akan terlihat dalam caranya mempergunakan waktu yang ada secara benar, mengingat “hari-hari ini adalah jahat,” (ay. 16). Sebagaimana berjalan sebagai orang yang arif pada ayat 15, penulis menegaskan kembali hal tersebut pada ayat 17, agar jemaat jangan menjadi bodoh, tetapi berusaha agar mengerti kehendak Tuhan yang berarti mau terus-menerus belajar mengenal Kristus (Efesus 4:20-21).
Salah satu kebodohan yang dicontohkan penulis adalah mabuk oleh anggur yang membawa seseorang pada hawa nafsu (ay. 18). Terjemahan “hawa nafsu” oleh LAI datang dari kata asotia, yang menunjuk pada hidup yang menyia-nyiakan segala sesuatu, sebagaimana anak bungsu yang memboroskan harta miliknya dengan hidup berfoya-foya (bnd. Lukas 15:13). Kontras dari hidup yang dikuasai anggur adalah hidup yang dipenuhi Roh. Hidup yang dipenuhi Roh akan menjauhkan seseorang dari perbuatan-perbuatan daging seperti kemabukan dan hanya akan menghasilkan penguasaan diri sebagai buah dari pekerjaan Roh Kudus. Hidup yang dipenuhi Roh akan nyata dalam hidup bersama yang mendorong seorang berkata kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani (odais pneumatikais). Hal itu menghasilkan pujian bersama yang dipersembahkan kepada Tuhan lewat nyanyian dan sorak-sorai dengan segenap hati (ay. 19), di mana jemaat mengucap syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan jemaat saling merendahkan diri seorang kepada yang lain di dalam penghormatan kepada Kristus (ay. 20-21). Hidup yang dipenuhi Roh dalam hidup bersama ini menyatakan panggilan setiap orang percaya untuk “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (bnd. Filipi 2:5). Itulah sebabnya penekanan Kristosentris menjadi dasar jemaat melakukan segala sesuatu dalam hidup pribadi dan bersama orang lain.
MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN
Orang percaya perlu terus-menerus menyadari identitas yang baru yang dimiliki di dalam Kristus. Hal ini menjadi dasar dalam hidup sehari-hari yang dinyatakan oleh orang percaya. Orang percaya akan berjalan dalam kasih Kristus, berjalan dalam terang, dan berjalan dalam hikmat. Inilah yang menjauhkan orang percaya dari dosa-dosa yang mengintai setiap hari, yang berusaha menggoda dan menjatuhkan orang percaya dalam kehidupan yang dijalaninya.
Kita semua dipanggil untuk menghayati identitas kita sebagai anak-anak terang dan orang-orang kudus milik Allah dalam kehidupan kita di tengah dunia. Kita memang bukan dari dunia, namun kita dihadirkan di tengah dunia. Kita perlu menunjukkan gaya hidup yang mencerminkan perubahan yang telah terjadi di dalam diri kita, yang membuat kita berbeda dari dunia ini. Inilah arti dari memancarkan terang Kristus yang hidup di dalam kita supaya nama Tuhan dimuliakan.
GMIM terus memperlengkapi jemaat sebagai umat kepunyaan Allah untuk menghidupi panggilan tersebut di tengah gereja dan di dalam pelayanan, di tempat belajar, di tempat bergaul, di tempat bekerja, dan di manapun orang percaya pergi dan berada, sebagai saksi bagi Kristus.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Apa maksud tema: “Hiduplah sebagai anak-anak terang” menurut Efesus 5:1-21?
- Mengapa jemaat dinasihati untuk hidup sebagai anak-anak terang?
- Bagaimana gereja masa kini memperlengkapi jemaat untuk hadir sebagai anak-anak terang dalam kehidupan setiap hari?
NAS PEMBIMBING: Matius 5:16
POKOK-POKOK DOA
- Berdoa agar jemaat terus berjalan dalam terang Yesus
- Berdoa agar jemaat terhindar dari berkata-kata yang tidak pantas dan tidak hidup dalam hawa nafsu dosa.
- Berdoa agar Gereja senantiasa memperlengkapi jemaat untuk hidup sebagai anak-anak
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN : HARI MINGGU BENTUK I
NYANYIAN YANG DIUSULKAN
Panggilan beribadah: NNBT No. 1 Pujilah Dia, Pujilah Dia
Ses Nas Pemb: PKJ No. 14 Kunyanyikan Kasih Setia Tuhan.
Ses Peng Dosa: NKB No. 9 Engkau Sabar Menanti
Ses Pemb Anugerah Allah: KJ No.39 Ku Diberi Belas Kasihan
Pengakuan Iman: KJ. No.280. Aku Percaya Allah Yang Kekal
Hukum Tuhan: NKB.No.193 Aku Hendak Berhati Tulus
Pembacaan Alkitab: KJ. No.50a. Sabda-Mu Abadi
Persembahan: KJ No.393 Tuhan Betapa Banyaknya.
Nyanyian Penutup: KJ. No.355 Yesus Memanggil Mari Seg’ra
ATRIBUT Warna Dasar Putih dengan Lambang Lilin di atas Palungan.





































