RENUNGAN HARIAN KELUARGA GMIM
Minggu 21 Januari 2024
Kisah Para Rasul 25:1-2
Tema: JANGAN CEPAT MENGHAKIMI
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Pergantian pemimpin dalam sebuah organisasi merupakan hal yang biasa terjadi. Tugas dan jabatan yang dijalankan oleh seorang pejabat tidak selamanya akan tetap dipegang atau dijabat. Demikian juga jabatan yang dipegang oleh Feliks sebagai Gubernur Provinsi Yudea yang ibu kotanya Kaisarea. Ia digantikan oleh Perkius Festus yang dalam awal pemerintahannya mengambil hati orang Yahudi, dengan membiarkan Paulus tetap dalam penjara (pasal 24:27). Perkius Festus berbeda dengan Feliks yang sudah menguasai keadaan di Provinsi Yudea. Perkius Festus sebagai Gubernur yang baru, masih perlu mengenal dan mencari tahu karakteristik orang Yahudi dengan segala ajaran dan tradisinya. Karena itu setelah tiga hari tiba di Kaisarea, Festus langsung berkunjung ke Yerusalem. Dalam kunjungannya ke Yerusalem, imam-imam kepala dan orang-orang Yahudi terkemuka menghadap dia dan menyampaikan dakwaan terhadap Paulus. Namun dari dakwaan yang mereka sampaikan ternyata Perkius Festus mendapatkan fakta baru bahwa dakwaan yang sebenarnya bukan karena Paulus menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia (pasal 24:5-6), melainkan karena persoalan agama. Terutama tentang seorang yang bernama Yesus Kristus yang menurut orang Yahudi sudah mati sedangkan Paulus mengatakan dengan pasti bahwa Ia hidup (pasal 25:18-19).
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Firman Tuhan yang kita renungkan hari ini, mengajarkan kita agar tidak cepat menuduh (mendakwa) seseorang untuk suatu persoalan yang belum jelas. Sebab ada banyak kenyataan di sekitar kita, termasuk dalam keluarga kita bahwa sering ada orang yang menjadi korban karena tuduhan yang tidak benar. Oleh sebab itu, melalui Firman ini kita diajak untuk meneliti, menimbang dengan benar untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah-masalah yang dihadapi. Baik di rumah kita maupun di tengah jemaat dan masyarakat. Amin.
Doa: Ya Yesus Kristus, Tuhan, berilah kami hikmat agar kami tidak cepat menghakimi sesama kami sehingga boleh hidup dalam damai dan sejahtera. Amin.
RENUNGAN HARIA KELUARGA GMIM
Senin 22 Januari 2024
Kisah Para Rasul 25:3
Tema: JANGAN MERENCANAKAN KEJAHATAN
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Kebencian, dendam dan amarah yang tidak pernah hilang, akan membuahkan sesuatu yang tidak baik dalam kehidupan, bahkan dapat merusak diri sendiri maupun orang lain. Sebab kebencian, dendam dan amarah yang berlarut-larut pasti akan membawa dampak negatif dalam tubuh dan dapat menjerumuskan orang berbuat jahat terhadap orang lain. Hal inilah yang terjadi pada imam-imam kepala dan pemuka agama Yahudi yang tetap berusaha dengan keras untuk membunuh Paulus. Bagi mereka pemenjaraan Paulus selama dua tahun (pasal 24:27) tidak memberi kepuasan, sehingga mereka tetap membenci dan berusaha membunuh Paulus. Kemudian mereka membuat siasat jahat dengan meminta anugerah, yaitu semacam titah atau perintah dari gubernur Festus, agar Paulus dapat dibawa ke Yerusalem untuk diadili di sana dihadapan Festus. Padahal sebenarnya di balik permintaan itu mereka hendak membunuh Paulus di tengah jalan.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Kita hidup dalam suatu lingkungan masyarakat di mana kita sendiri tidak pernah mengetahui hal-hal apa yang akan terjadi terhadap diri kita atau keluarga. Sebab bisa saja ada orang yang merencanakan sesuatu yang jahat terhadap kita. Namun yang pasti bahwa perlindungan Tuhan Allah tetap menjaga dan tidak akan membiarkan orang yang setia, taat dan berharap kepada-Nya. Jika dalam kehidupan kita masih tersimpan perasaan dendam, amarah dan kebencian terhadap orang lain, mintalah pengampunan kepada Tuhan Allah sehingga kita tidak tergoda untuk merencanakan kejahatan terhadap orang lain. Karena sebagai orang percaya kita dituntut untuk selalu berdoa supaya dapat dimampukan untuk mengampuni dan mengasihi orang yang membenci kita serta memberikan hati yang rela untuk mengampuni orang yang kita benci. Amin.
Doa: Ya Yesus Kristus, Tuhan, Ajarlah kami untuk tidak menaruh pikiran dan rencana jahat terhadap sesama. Dan ajarlah kami untuk dapat mengampuni dan mengasihi sesama. Jika ada orang yang membenci, menaruh dendam dan amarah terhadap kami, ampunilah mereka. Amin.
|
RENUNGAN HARIA KELUARGA GMIKM
Tema: MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG TEPAT
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Seorang pemimpin harus mempunyai sikap yang jelas agar tidak membawa kerugian bagi orang lain. Karena jika pemimpin tidak dapat bersikap untuk mengambil keputusan akan ada pihak yang akan dirugikan atau celaka. Demikian juga Perkius Festus sebagai seorang pemimpin, tidak menyetujui dan menuruti keinginan orang Yahudi. Ia menolak permintaan mereka untuk membawa Paulus ke Yerusalem agar dapat diadili di sana. Festus mengambil keputusan Paulus tetap ditahan di Kaisarea. Ia berbuat demikian karena sudah mengetahui dengan pasti persoalan yang dituduhkan kepada Paulus dan tidak menyetujui mengirim Paulus ke Yerusalem. Sehingga ia mengundang imam-imam kepala dan pemimpin Yahudi yang berwewenang untuk datang ke Kaisarea dan mendakwa atau menyatakan tuduhan kepada Paulus. Apapun alasannya, penolakan Festus ini kita yakini adalah cara Tuhan Allah melindungi Paulus dari rencana jahat orang-orang yang membencinya.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Sebagai orangtua yang adalah pemimpin dalam keluarga, hal mengambil keputusan merupakan suatu tindakan yang harus kita lakukan saat kita diperhadapkan dengan berbagai pilihan. Ketika kita berhadapan pilihan yang sangat dilematis membuat kita sulit mengambil sikap untuk sebuah keputusan yang tepat. Karena itu kita harus memohon hikmat dari Tuhan Allah agar tidak salah mengambil keputusan. Sebab kalau kita salah mengambil keputusan, maka akan salah juga untuk menentukan arah perjalanan hidup keluarga kita. Bahkan dalam kehidupan bersama orang lain di lingkungan jemaat dan masyarakat. Karena itu pakailah hikmat dari Tuhan Allah agar kita dapat mengambil keputusan yang tepat atas setiap permasalahan yang dihadapi. Apapun yang mengancam, Tuhan pasti akan menolong kita. Amin
Doa: Ya Tuhan Allah, berilah hikmat-Mu kepada kami, sehingga bila kami diperhadapkan dengan masalah kehidupan, kami mampu mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan hikmat dan kehendak-Mu. Amin.
RENUNGAN HARIAN KELUARGA GMIM
|
Tema: BERANI MENYATAKAN KEBENARAN
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Kebenaran seringkali mudah untuk kita ucapkan, namun sesungguhnya sulit untuk dilakukan, sehingga kebenaran banyak kali hanya menjadi kata-kata manis (lips sevice). Karena sikap hidup kita sering bertentangan dengan kebenaran, pola hidup kita tidak sesuai dengan apa yang kita ucapkan dan lakukan. Memang menjadi orang benar belum tentu dapat luput dari persoalan.
Paulus dalam bacaan kita hari ini menunjukan sikap hidup yang tetap teguh membuktikan kebenaran yang sesungguhnya seperti yang ia katakan sebagai pledoi (pembelaan) atas tuduhan yang diberikan kepadanya: “aku sedikit pun tidak bersalah baik terhadap hukum Taurat orang Yahudi maupun terhadap Bait Allah atau terhadap Kaisar”. Kata-kata Paulus ini sangat tegas menolak tuduhan yang mengatakan bahwa ia telah menimbulkan kerusuhan atau huru hara, baik di Bait Allah, maupun tempat lain di kota (pasal 24:12). Inilah yang disebut sebagai pembelaan iman (Yunani: apologet). Pembelaan Paulus di depan pengadilan Perkius Festus, bersifat doktrinal (ajaran agama) di mana Yesus Kristus yang mati adalah yang bangkit (hidup). Bagi pengadilan Romawi tidak memiliki kepentingan tentang keyakinan seseorang karena hal ini adalah masalah ajaran agama Yahudi.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Sikap Paulus yang berani sangat jelas mempertahankan kebenaran yang sesungguhnya. Sikapnya menunjukkan integritas diri (satu kata dan perbuatan) tentang hidup yang taat, tidak cemar, hidup bersih dan setia kepada Yesus Kristus.
Sebagai orang beriman kita perlu belajar dari sikap Paulus untuk tetap berupaya hidup sesuai dengan kehendak Yesus Kristus, menyatakan kebenaran tanpa takut dan gentar. Karena walaupun kita dekat dengan Yesus Kristus, bukan berarti kita akan bebas dari masalah. Sebab jika kebenaran tidak dinyatakan, maka ketidakbenaran akan dipandang sebagai kebenaran. Oleh karena itu, marilah kita bangun pola hidup yang benar di dalam kehidupan sebagai keluarga kristen. Amin.
Doa: Ya Yesus Kristus, Tuhan, mampukan kami untuk berani menyatakan kebenaran dan bimbinglah kami untuk hidup dalam kebenaran menurut dengan kehendak-Mu. Amin.
|
RENUNGAN HARIA KELUARGA GMIM
Tema: KEBENARAN DAN KETIDAKBENARAN
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Ada berbagai cara digunakan oleh orang yang dipercayakan menjadi pemimpin. Salah satunya dengan membangun citra diri untuk mempertahankan popularitas dengan memainkan perasaan dan persepsi publik terhadap kepribadiannya. Cara demikian dianggap sebagai pilihan agar supaya tetap dalam posisi aman dan tetap mendapat simpati dari banyak orang. Hal ini dilakukan oleh Festus yang membiarkan Paulus dalam penjara (pasal 24:27), dengan maksud hendak mengunakan Paulus sebagai alat untuk menarik simpati dari orang-orang Yahudi. Festus menjaga kepentingan politiknya sehingga lebih mengikuti kemauan orang Yahudi dari pada menyatakan kebenaran. Ia berusaha membujuk Paulus agar bersedia pergi ke Yerusalem untuk diadili di sana. Hal ini dilakukan oleh Festus untuk menyenangkan hati orang-orang Yahudi.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Paulus sebagai orang yang teguh berpegang pada kebenaran tidak menerima permintaan Festus. Di Kaisarea di mana Paulus dipenjarakan, di situ pula Paulus menyiapkan diri untuk diadili. Sebab di hadapan orang-orang Yahudi yang datang dari Yerusalem, Paulus akan mempertanggungjawabkan kebenaran yang ia yakini. Paulus menyatakan bahwa ia tidak berbuat salah terhadap orang Yahudi.
Kita sudah melihat ketidakbenaran yang dilakonkan oleh Festus dan keberanian Paulus menyatakan kebenaran menjadi suatu pelajaran yang baik bagi kita sebagai orang percaya. Apa yang dilakonkan Paulus mencontohkan suatu bentuk keberanian untuk melakukan kebenaran. Tentu apa yang dibuat Paulus tidaklah lepas dari kuasa Yesus Kristus dalam Roh Kudus yang memberikan kekuatan untuk melakukan kebenaran (Filipi 4:13).
Oleh karena itu, sebagai keluarga Kristen kita terpanggil untuk meneladani Paulus yang berani mempertahankan kebenaran meskipun harus menghadapi resiko yang berat. Kita harus percaya bahwa setiap kebenaran yang diperjuangkan pasti akan disertai oleh Yesus Kristus. Amin.
Doa: Ya Yesus Kristus, Tuhan, kami serahkan hidup dan kemampuan kami untuk melakukan kebenaran. Kuatkanlah kami, ketika kami harus menanggung resiko apapun demi melakukan kebenaran. Amin.
RENUNGAN HARIAN KELUARGA GMIM
|
BERANILAH BERJUANG UNTUK KEBENARAN
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Banyak orang memilih jalan hidup yang tidak mau susah dengan cara menghindar dari masalah. Bahkan ada yang berusaha melindungi kepentingan dirinya dengan mengikuti kehendak orang banyak, meskipun harus mengorbankan orang lain dan terhindar dari masalah.
Firman Tuhan kita hari ini, tergambar bentuk pertanggungjawaban Paulus di hadapan Festus. Dia mengatakan bahwa jika ia benar-benar berbuat salah dan berbuat suatu kejahatan yang setimpal dengan hukuman mati maka ia rela dihukum mati (ayat 11a). Tetapi, jika apa yang mereka tuduhkan itu ternyata tidak benar, Paulus mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkannya sebagai suatu anugerah kepada orang Yahudi. Maka ia kemudian meminta naik banding kepada Kaisar (ayat 11b).
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Pernyataan Paulus dalam ayat 11 ini sebenarnya bukan hanya ditujukan kepada Festus tetapi juga kepada orang-orang Yahudi dan semua orang yang hadir dalam pengadilan yang dipimpin oleh Festus. Ungkapan bahwa ia rela mati kalau ia melakukan kesalahan adalah pembuktian dirinya bahwa ia memang tidak bersalah. Dan naik banding kepada Kaisar adalah jalan di mana ia harus menggunakan hak politiknya sebagai warga negara Romawi.
Pernyataan-pernyataan yang diucapkan Paulus menjadi bukti pada kita bahwa ia telah menunjukkan kebenaran itu sebagai hak yang harus dipertahankan meskipun harus berhadapan dengan resiko kematian. Jadi berjuang untuk sebuah kebenaran bukan hanya kata-kata indah saja atau bukan hanya sebuah pernyataan untuk membanggakan diri. Tetapi sebuah sikap hidup yang harus kita miliki meskipun karena kebenaran kita harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga dalam kehidupan kita. Amin.
Doa: Ya Yesus Kristus, Tuhan, kami mengaku bahwa kami sering tidak memiliki keberanian untuk menyatakan kebenaran. Tetapi kami percaya bahwa Roh Kudus dapat memampukan dan memberanikan kami untuk mewujudkannya. Maka jadilah pada kami menurut apa yang Engkau kehendaki. Amin.
RENUNGAN HARIAN KELUARGA GMIM
|
Tema: MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG BENAR
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Perkius Festus wali negeri pada saat itu, ternyata tidak berbeda jauh dengan pendahulunya Feliks. Dia tidak mampu atau ragu-ragu untuk mengambil keputusan yang benar dan adil. Setelah berunding dengan anggota-anggota pengadilan (bukan sanhendrin Yahudi, tetapi sejumlah penasihat yang mengiring Festus), akhirnya Festus menyetujui permintaan Paulus untuk naik banding dan pergi menghadap Kaisar. Hal ini sebenarnya membuktikan bahwa Festus tidak mampu mengambil keputusan terhadap perkara yang diperhadapkan kepadanya. Festus melepas perkara yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya sebagai wali negeri, dengan mengirim Paulus ke Roma. Ia ingin lepas dari persoalan itu, walaupun tidak mudah untuk mengirim tahanan kepada kaisar. Festus harus membuat surat pengantar untuk menjelaskan sifat dari perkara yang dihadapi Paulus.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Firman Tuhan yang kita renungkan hari ini, secara praktis sering terjadi di lingkungan kita, baik dalam masyarakat maupun dalam keluarga. Terkadang dalam mengatasi masalah, kita bersikap seperti Festus, di mana kita tidak mampu bersikap tegas. Begitu juga dalam kehidupan berkeluarga ketika ada persoalan anak-anak, ibu melimpahkan masalah itu kepada ayah. Demikian sebaliknya ayah melimpahkan masalah kepada ibu. Dan sebagai orangtua, demi menyenangkan hati anak-anak kita sering tidak mau menegur (sayang mo marah pa anak) walaupun perbuatan itu salah. Kita tidak bersikap tegas dan cenderung mencari posisi aman. Seharusnya tanggungjawab yang dipercayakan kepada kita, sebesar apapun resikonya, harus berani mengambil keputusan dan berbuat sesuai dengan apa yang menjadi tanggung jawab kita.
Melalui perenungan ini, kita diajak untuk melakukan sesuatu yang benar dan yakinlah bahwa dengan pertolongan Tuhan Allah akan membuat kita mampu untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar. Jangan pernah melalaikan kebenaran yang bersuara di hati kita dalam mengambil keputusan. Dan pertajamlah suara hati kita dengan selalu belajar dan mendengar firman Tuhan setiap hari. Amin
Doa: Ya Yesus Kristus, Tuhan, ajarlah kami untuk mampu mengambil keputusan yang benar di dalam kehidupan ini sesuai dengan kehendak-Mu. Amin
SOBAT obor, sosok seorang yang berani mati untuk sebuah kebenaran yang dipertahankan adalah layak disebut pahlawan. Seorang tokoh Kristen dari Minahasa yang dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional yakni Robert Wolter Monginsidi juga berani mati karena keyakinan akan kebenaran yang dimilikinya. Dalam guratan pena terakhir yang dituliskan dalam sebuah kertas berbunyi: “setia hingga akhir dalam keyakinan”. Sungguh luar biasa para tokoh iman yang memperjuangkan keyakinannya seperti ini. Mereka pun tidak mati sia- sia. Pemahaman iman seperti ini tentu tidak bisa dipisahkan dari peran kekristenan. Dan ini sudah jauh terlebih dahulu dicontohkan oleh Paulus ketika membela keyakinan imannya kepada Kristus.
Ketika diancam untuk dibawa ke Yerusalem karena ia juga direncanakan dibunuh dalam perjalanan, Paulus menolak dengan tegas. Alasannya juga bukan dicari- cari atau di buat- buat. Ia bersikukuh untuk taat pada aturan yang dibuat oleh pemerintah Romawi. Bahwa ia ada di hadapan pengadilan kaisar maka di hadapan kaisar pula ia harus dihakimi bukan di pengadilan Yahudi di Yerusalem. Kita melihat integritas Paulus yang mempertahankan kebenaran ini, dan bukti ketaatannya pada aturan pemerintah membuat ia berada di jalur hukum yang tepat dan menghindarkan dia dari rancangan jahat dari para pemimpin umat Yahudi. Berbeda dengan Festus, Wali Negeri yang ingin mengambil hati dari orang Yahudi dalam rangka kekuasaannya. Ia bahkan tidak takut melanggar aturan yang dibuatnya sendiri dalam rangka meminta simpati politis dari orangorang Yahudi. Integritas seorang pengikut Kristus harus seperti Paulus yang teguh, kokoh sesuai kebenaran. Sebaliknya, ketika kita diberi kesempatan untuk berkuasa, kita jangan seperti Festus yang berani menghalalkan segaka cara untuk melenggangkan kekuasaanya itu. Menjadi pemuda gereja harus memiliki integritas yang mengandalkan kebenaran dan kejujuran, supaya bukan hanya sekedar keuntungan diri yang didapatkan, tapi kemuliaan Tuhan terpancar dari perbuatan kita. Amin. (DLW).






































