Penulis : Pdt. Prisca D. Walukouw, S.Teol
SOBAT OBAT, seorang pengajar pasti akan sangat senang jika apa yang diajarkan bisa dimengerti, dipraktekkan terlebih dipertahankan oleh orang yang menerima ajarannya. Inilah juga yang dirasakan oleh Rasul Yohanes yang juga adalah Penatua ketika ia menulis surat 2 Yohanes kepada penerima suratnya yang didapati telah hidup dalam kebenaran. Penerima surat ini disapa sebagai “ibu yang terpilih” dan “anak-anaknya yang dikasihi” (1:1). Sapaan Ibu yang terpilih menunjuk pada gereja atau jemaat secara komunal, dan anak-anaknya menunjuk pada orang percaya secara individu, khususnya gereja dan orang percaya yang ada di daerah Asia Kecil tepatnya di wilayah Turki. Sebutan Ibu yang terpilih sebagai gambaran gereja juga dapat dilihat dalam beberapa teks Alkitab seperti dalam 2 Korintus 11:2 dan Wahyu 19:7 yang mana gereja diibaratkan sebagai mempelai Kristus, dalam Efesus 5:24 hubungan Kristus dan jemaat digambarkan ibarat hubungan suami istri, dan dalam 1 Petrus 2:9 penggunaan kata “terpilih” juga dikenakkan kepada persekutuan orang percaya atau gereja sebagai bangsa yang terpilih.
Melalui surat ini, ada 2 hal yang Yohanes minta dari penerima suratnya: yang pertama, supaya mereka saling mengasihi satu sama lain, dan kedua supaya waspada terhadap para pengajar palsu dan ajaran sesat mereka. Yohanes bukan berfokus pada separuh yang tidak melakukan perintah Tuhan sebaliknya secara positif, ia bersukacita atas separuh yang taat dalam kebenaran untuk saling mengasihi. Selanjutnya Yohanes mengarahkan mereka untuk tetap setia hidup dalam kebenaran dan kasih sebagai wujud ketaatan mereka kepada Tuhan. Jelas bahwa ketaatan dan kesetiaan melakukan perintah Tuhan pasti dilakukan oleh orang benar dan tindakannya lahir dari hati yang penuh kasih, dengan demikian baik Gereja secara komunal maupun orang percaya secara individu terpanggil untuk taat karena kasih bukan karena takut.
Ayat 7-11 menunjukkan peringatan Yohanes agar waspada terhadap bahaya penyesat dan antikristus yang ada di seluruh dunia, mereka mengajar ajaran sesat seperti ajaran bahwa Yesus Kristus bukan manusia artinya mereka menolak Teologi Inkarnasi, mereka menganggap tubuh fisik manusia itu cemar dan karena itu mereka menolak penderitaan tubuh Kristus untuk menyelamatkan manusia. Padahal Yesus adalah Tuhan yang menjadi manusia sejati ketika lahir di dunia, dan la sungguh merasakan penderitaan saat menempuh jaian salib hingga mati disalibkan sehingga manusia beroleh keselamatan, manusia dibenarkan dan dikuduskan.
Sobat obor, bacaan inipun ditujukan kepada kita selaku pemuda gereja. Di masa depan, kita adalah generasi penerus gereja, penerus keluarga Kristen, penerus bangsa, yang bisa jadi sasaran empuk si penyesat dengan ajaran-ajaran sesatnya supaya gereja tidak berkembang bahkan hancur, keluarga Kristen berantakan dan bangsa ini kacau balau. Karena itu waspadalah! Karena di zaman now ini, ada berbagai macam cara yang para penyesat lakukan untuk memikat kaum muda agar meninggalkan ajaran sehat dan mengikuti ajaran sesat, berani melanggar perintah Tuhan dalam firman-Nya, tidak punya ketaatan sebaliknya suka memberontak, tidak punya kesetiaan melainkan suka berkhianat, tidak punya rasa peduli sebaliknya bersifat egois terlebih yang paling berbahaya tidak lagi cinta Tuhan melainkan cinta dunia. Karena itu, ingatlah bahwa ajaran Kristus hanya bisa kita dapat di dalam Alkitab, dan gereja adalah wadah terjadinya pengajaran iman Kristen yang benar.
Sobat obor, menjelang perayaan Natal Yesus Kristus, kita diingatkan untuk tetap setia dan taat melakukan perintah dan ajaran Kristus, Dialah pusat pemberitaan di moment natal, yang membuat kita menyadari betapa besarnya kasih Allah bagi kita sehingga la memberikan Putra Tunggalnya Yesus Kristus berinkarnasi, menjadi manusia, bahkan berkorban sampai mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kebinasaan. Oleh sebab itu, sebagai orang yang telah diseiamatkan, Roh Kudus yang telah dicurahkan bagi kita selaku gereja, pun akan menolong kita untuk meresponi kasih Allah dengan hidup dalam kebenaran dan kasih sebagaimana yang sudah diajarkan bahkan diteladankan oleh Yesus Kristus.
Sebagaimana Yesus taat kepada Bapa, demikian kita pemuda gereja taatlah pada perintah dan ajaran Yesus, adapun ajaran Yesus tersimpulkan dalam satu kata yang penuh makna, kata yang juga menjadi inti berita Natal, itulah “Kasih”. Biarlah Natal kali ini semakin menyadarkan kita betapa besar-Nya kasih Allah melalui Yesus Kristus bagi kita, sehingga hati kitapun dipenuhi dengan kasih Kristus yang menggerakkan kita agar mampu mengasihi sesama, setia bersaksi, bersekutu dan melayani, rajin belajar dan bekerja, menghormati orangtua, berpegang dan menjaga ajaran gereja yang sehat, termasuk taat pada hukum Negara, demikianiah kita hidup untuk memuiiakan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat, Soli Deo Gloria. Amin. (PDW)























