SUATU malam seorang pria masuk ke salah satu minimarket sambil menodongkan senjata. Ia lalu meminta sang kasir untuk mengeluarkan seluruh uang dari mesin ke atas meja dan kemudian memindahkan ke
tas yang telah ia siapkan. Saat sang kasir sedang memindahkan uang, perampok melihat sebotol minuman keras yang terletak tepat di belakang kasir dan kemudian memintanya. Sang kasir dengan tegas mengatakan ia tidak akan memberikannya. Perampok ini kemudian mengatakan kalau kau tak memberikannya aku akan membunuhmu. Kasir itu pun menjawab bahwa minuman keras itu hanya dapat diberikan kepada orang yang berusia 21 tahun ke atas. Perampok itu kemudian mengatakaniatelahberusia23tahun.Kasiritutetaptidakpercayakarenaiamelihat sang perampok baru berusia sekitar 20 tahun. Iapun meminta kartu identitas perampok itu untuk memastikan umurnya. Dan tanpa ragu sang perampok itu mengelurkan identitasnya serta menunjukkan kepada sang kasir. Setelah melihat identitas itu barulah sang kasir percaya dan memberikan minuman keras itu. Perampok itupun kemudian pergi meninggalkan toko. Tapi tak lama kemudian polisi dapat menangkap perampok itu berdasarkan keterangan sang kasir melalui ketidakpercayaannya yang akhirnya membawa dia dapat melihat dengan jelas nama dan alamat sang perampok.
Sobat obor, kita menjadi percaya biasanya kalau kita sudah melihatnya sebagaimana kisah sang kasir dengan perampok. Karena pada umumnya orang akan mengatakan saya akan lebih percaya kalau saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Dengan kata lain bahwa percaya disini adalah suatu tindakan setelah melihat. Apakah benar demikian? Kita mengingat ucapan Yesus kepada Tomas, berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya. Suatu ucapan karena keraguan Tomas. Berbeda dengan Abram dalam bacaan kita ini, ia percaya kepada TUHAN. Dan melalui iman percayanya itu maka ia mengikuti apa yang TUHAN firmankan kepadanya. Abram mempersembahkan yang terbaik bagi TUHAN. Tindakan Abram mendorong kita sebagai pemuda gereja untuk percaya dan bertindak dalam tindakan hidup dengan mempersembahkan yang terbaik bagi TUHAN. Itulah hidup kita yang berkenan kepada TUHAN sebagai ibadah yang sejati. Amin (ARMI)























