MENURUT Alkitab, Yusuf adalah seorang yang sederhana sekalipun ia keturunan Raja Daud. Hal ini nampak dari pekerjaannya sebagai tukang kayu (Matius 13:55). Tukang kayu saat itu jelas bukanlah sebuah pekerjaan orang kaya. Selain itu, kesederhanaan Yusuf diperkuat oleh fakta ketika ia mempersembahkan burung terkukur atau dua ekor anak burung merpati (Lukas 2:22-24) ketika Yesus dibawa ke Bait Suci. Padalah dalam Imamat 12:6-8 dijelaskan bahwa ketika anak sulung dipersembahkan kepada Allah melalui imam, mereka juga harus mempersembahkan seekor domba atau kambing. Jika tidak mampu, barulah mereka mempersembahkan burung terkukur atau dua ekor merpati.
Alkitab menunjukan Yusuf sebagai orang yang patut diteladani karena sifatnya yang tulus hati. Ketika malaikat Tuhan menampakan diri kepada Yusuf serta berkata agar ia jangan ragu menerima Maria, sebagai istrinya, Yusuf menaatinya. Ia mengambil Maria yang sedang mengandung dari Roh Kudus menjadi istrinya. Dan ketika Malaikat Tuhan memerintahkan Yusuf untuk membawa Maria dan bayi Yesus mengungsi ke Mesir karena Raja Herodes ingin membunuh bayi Yesus, Yusuf juga menaatinya. Ia membawa Maria dan bayi Yesus mengungsi ke Mesir dan tinggal selama beberapa waktu di Mesir.
Sobat obor, Yusuf adalah seorang tukang kayu yang dipercayakan membesarkan Anak Allah. Tentu kepadanya dipercayakan hal yang luar biasa karena Tuhan telah melihat integritas Yusuf. Alkitab tidak banyak menjelaskan detail peran yusuf sebagai ayah bagi Yesus. Tetapi kita tahu dari Injil Matius, bahwa ia adalah contoh manusia yang memiliki integritas dan kejujuran. Nama Yusuf disebutkan terakhir kali ketika Yesus berusia 12 tahun. Kita tahu bahwa ia mewariskan pekerjaan dan usaha tukang kayu kepada Anaknya dan membesarkannya dalam tradisi Yahudi serta ketaatan spiritual. Sikap rendah hati Yusuf menjadi teladan yang harus terus menerus dilakukan. Tuhan selalu memakai orang-orang yang dalam kesederhanaanya selalu memiliki ketulusan dan kerendahan hati. Suatu perkara besar dipercayakan Allah kepada Yusuf. Dan ia menerima semua itu dengan penuh ketaatan tanpa melawan kehendak Allah. Amin (MT)























