
Shalom, damai dihati.
Saudara yang dikasihi dan diberkati Tuhan, saat ini kita akan merenungkan satu kebenaran yang sering kali diabaikan yakni Hari Penghakiman. Hari di mana setiap perbuatan manusia akan diungkapkan. Hari di mana tidak ada yang bisa bersembunyi, dan setiap lidah akan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Hari yang pasti akan datang, meskipun kita tidak tahu kapan. Firman Tuhan dalam Ibrani 9:27 berkata, “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,” ini bukanlah hal yang ringan. Hari Penghakiman bukan hanya tentang hukuman, tetapi juga tentang keadilan, kebenaran, dan pemulihan. Hari di mana Tuhan menunjukkan bahwa tidak ada satu pun yang luput dari perhatian-Nya baik yang besar maupun yang kecil.
Saudara perikop ini adalah suatu penggambaran mengenai penghakiman terakhir atau hari penghakiman. Bahwa akan ada penghakiman di kemudian hari. Penghakiman ini akan memutuskan nasib setiap orang untuk dibawa pada kebahagiaan atau kesengsaraan kekal, dan mereka juga akan menerima balasan setimpal dengan apa yang dilakukan dalam kehidupan sekarang yang penuh pencobaan dan ujian. Penyelenggaraan penghakiman pada hari yang mulia itu diserahkan kepada Anak Manusia, karena Allah akan menghakimi dunia ini melalui Dia (Kis. 17:31). Kedatangan-Nya kembali bukan lagi sebagai bayi mungil tapi sebagai Raja dan Hakim yang adil. Kedatangan Kristus kembali datang dalam kemuliaan-Nya, Yesus sebagai Raja memerintah di atas takhta sebagai hakim yang adil. Tampilnya Kristus untuk menghakimi dunia ini dipenuhi kemegahan dan kemuliaan. Penghakiman pada hari yang mulia itu merupakan pengadilan umum. Semua orang harus dikumpulkan di hadapan pengadilan Kristus. Semua bangsa (semua orang baik yang sudah mati dan yang masih hidup-1 Korintus 15:52). Pada saat penghakiman itu tidak ada yang bisa luput atau sembunyi, dari penghakiman itu Sang Raja akan melakukan pemisahan domba dari kambing. Domba sering menjadi simbol dari orang benar atau pengikut Yesus (Yohanes 10:27) sebaliknya kambing adalah gambaran orang fasik. Perbedaan yang kemudian dibuat antara yang mulia dan yang hina. Orang jahat dan orang benar di dunia ini tinggal bersama-sama di dalam berbagai negara, kota, jemaat, dan keluarga yang sama. Keadaan mereka tidak dapat dibedakan satu sama lain. Tetapi, pada hari itu mereka akan dipisahkan, dan dipisahkan untuk selama-lamanya. Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik (Mal. 3:18). Di dunia, mereka tidak dapat memisahkan diri sendiri dari orang lain (1Kor. 5:10), dan tidak ada yang dapat memisahkan mereka (Mat. 13:29). Tetapi Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya, dan Ia dapat memisahkan mereka. Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti lalang dan gandum dipisahkan pada saat penuaian, ikan yang baik dan ikan yang tidak baik di tepi pantai, serta gandum dan sekam dalam alat penampi. Di hari penghakiman Raja menempatkan domba di sebelah kanan (dalam adat Yahudi sebelah kanan adalah posisi terhormat dan karunia khusus). Dan mereka yang menerima karunia itu akan disediakan Kerajaan (ayat 34).
Saudara yang diberkati Tuhan, mengenai orang-orang saleh yang ditempatkan di sebelah kanan, pengakuan bahwa orang-orang kudus adalah orang-orang yang diberkati Tuhan; Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku. Ia menyatakan bahwa mereka diberkati, dan sabda-Nya menjadikan mereka seperti itu. Ia memanggil mereka untuk datang. Bisa diartikan perkataan Yesus seperti ini: marilah bersama-Ku selamanya; kamu yang telah mengikut Aku memikul salib, sekarang akan ikut bersama-Ku mengenakan mahkota. Kemarilah sekarang, datanglah ke pangkuan-Ku, datanglah kepada lengan-Ku yang terentang, masuklah dalam pelukan kasih sayang-Ku yang terdalam! Dalam sekali perkataan Yesus, sebuah sukacita bagi orang percaya menerima anugerah seperti itu. Saat Raja berkata ‘marilah’ itu adalah puncak kebahagiaan. Sebab mereka akan menerima Kerajaan, kebahagiaan yang akan mereka miliki sangat berlimpah. Kita diberi tahu tentang hal itu oleh Dia yang mengetahui tentang hal itu, Dia yang telah menyediakannya bagi mereka, dan menjadikan mereka milik-Nya sendiri.
Saudara yang diberkati Tuhan, Yesus di dalam pengajaran-Nya mengatakan bahwa orang-orang yang beriman sejati, yaitu umat-Nya yang sejati, para domba-Nya, adalah orang-orang yang memiliki kasih yang sejati kepada orang-orang yang mengalami kesusahan. Alasan yang mendasari ayat ini adalah (ay. 35-36), Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan.Yesus bahkan mengidentikkan diri-Nya dengan orang-orang rendah yang mengalami kesusahan itu. Dia mengidentikkan diri-Nya dengan orang yang kelaparan, kehausan, tersendiri, telanjang, dan di dalam penjara. Kristus tahu apa itu penderitaan karena Dia sendiri pernah mengalami. Dia pernah mengalami kelaparan di padang gurun setelah berpuasa. Dia sering kali tidak memiliki tempat untuk istirahat. Dia bahkan akan mengalami ketelanjangan dan penyiksaan, bahkan kematian dengan cara yang paling mempermalukan pada saat itu, yaitu disalibkan. Dia mengalami keterasingan yang paling besar dibandingkan siapa pun di atas kayu salib. Dia mengalami semua itu karena panggilan-Nya untuk menebus dosa manusia. Itu sebabnya Yesus lebih memilih untuk mengidentikkan diri-Nya dengan orang-orang hina, menderita, miskin, diabaikan, sengsara, dan lapar ketimbang menyamakan diri-Nya dengan para pembesar, atau orang-orang agung di dalam sejarah, meskipun sebenarnya Dia jauh lebih agung daripada semua orang yang pernah atau yang akan hidup di bumi ini. Karena itu kita tidak dapat menyimpulkan bahwa perbuatan kita yang baik patut mendapatkan kebahagiaan sorga, seberapa berharga ataupun istimewanya perbuatan kita itu: kebaikan kita tidak membuat pengaruh apa-apa bagi Allah. Kita memperoleh selamat hanya oleh karena kasih Anugerah Allah. Namun perbuatan baik harus menjadi identitas orang Kristen. Iman akan menggerakkan kita berbuat baik, apa yang Tuhan kehendaki seperti menolong sesama. Iman menuntun kita melakukan semua kebaikan dengan tulus.
Ditengah masalah sosial, betapa perlunya untuk berbagi kasih karena manusia hidup sebagai makhluk sosial yang harus peka bahwa hidup dalam keberagaman namun diikat dalam rasa persaudaraan dan kebersamaan yang harus dijunjung tinggi. Kita juga harus diperhadapkan dengan sebuah realita bahwa bukan hanya tentang miskin secara materi, bahkan ada juga yang “miskin rohani” mereka yang tidak mau bertumbuh dalam iman. Karena sulitnya memberi waktu untuk beribadah, tidak mau peka dengan pekerjaan Roh Kudus. Maka sebagai orang percaya kita terpanggil untuk berbagi makanan rohani bagi setiap orang. Bagi Yesus, kasih tak sekadar kata. Kasih melampaui segala batas yang ada dalam kamus hidup manusia. Kasih harus dibuktikan dalam tindakan nyata sehari-hari. Dengan berbuat baik kepada sesama, kita sebenarnya melayani dan mengasihi Kristus sendiri (ayat 45).
Saudara yang diberkati Tuhan, mengasihi sesama kita, yang menjadi hukum terutama yang kedua dan merupakan penggenapan dari hukum Taurat, serta menjadi persiapan istimewa bagi dunia kasih yang kekal. Kita harus membuktikan kasih ini dengan kesiapan kita untuk berbuat baik dan menyampaikannya secara lisan. Allah Sang Pemelihara begitu beragam dalam mengatur dan menetapkan keadaan umat-Nya di dunia ini, di mana ada sebagian orang dimampukan untuk memberi bantuan, sedangkan yang lainnya memerlukan bantuan. (2 Korintus 9:7&8 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.) Mereka yang melakukan perbuatan baik yang tulus bagi orang-orang lapar, haus, miskin, telanjang, tersendiri, mereka telah melakukannya untuk Tuhan. Gambaran penghakiman terakhir yang kita dengarkan dan renungkan dari bacaan Injil ini, kiranya menjadi semacam pengingat bagi kita semua untuk selalu berbuat baik kepada siapapun yang kita jumpai. Perhatian dan bantuan tidak hanya kita arahkan kepada orang yang dapat membalas kebaikan kita; justru kepada yang paling hina, kepada yang tidak dapat membalas, kepada yang paling membutuhkan. Perbuatan-perbuatan baik kita itu pun hendaknya dilakukan dengan ketulusan, kerendahan hati, dan tidak bermotivasi keuntungan atau kemuliaan diri.
Saudara yang diberkati Tuhan, melalui perikop kita saat ini dalam kitab Matius 25:31-46 kita mendapat pesan penting bahwa Yesus akan datang kembali. Meskipun tidak ada yang tahu kapan waktunya, dan meskipun sepertinya waktu penantian yang lama membuat orang meragukan akankah Dia datang kembali, tetapi inilah suatu kepastian yang harus kita ingat terus: Kristus pasti akan datang kembali! Dia tidak datang kembali untuk menjadi hamba, kedatangan-Nya yang kedua adalah untuk menghakimi para hamba-Nya. Untuk itu di masa penantian ini mari isi kehidupan ini dengan hal-hal yang berkenan di hadapan Tuhan. Kita hidup menjadi domba-domba yang setia kepada Sang Gembala agung, sambil menghidupi falsafah sebagai orang Minahasa “Si Tou Timou Tumou Tou” yang berarti “manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain”. Orang yang mengasihi Tuhan dia akan mampu mengasihi sesama, hidup di dunia ini singkat dan terbatas tapi pakailah waktu dan kesempatan ini sebaik mungkin untuk hidup menjadi orang baik. Sebab tujuan kita hidup bukan untuk mencari kebahagiaan di dunia yang sementara ini, tapi kita percaya ada kehidupan yang kekal bersama Bapa asalkan kita hidup percaya, beriman dan taat melakukan setiap apa yang diperintahkan Tuhan. Selamat menanti kedatangan-Nya kembali sebagai Raja dan Hakim yang adil dengan hidup menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Soli Deo Gloria, Amin.




































