
Sebagai orang yang telah dipanggil keluar dari kegelapan masuk dalam pada terang Allah (gereja) yang sejati, menjadi tindakan yang wajib dan penting bagi kita untuk terus hidup dalam kehidupan yang mau memperbaharui diri, dari macam-macam tindakan yang tidak berkenan di hadapan Allah. Mengapa ini penting ? Sebab sebagai gereja kita sanggat berperan penting bagi kehidupan dalam jemaat maupun ditengah-tengah bangsa. Tindakan hidup yang berkenan kepada Tuhan menjadi hal yang harus dikedepankan. Kita diharapkan menjadi pribadi yang mau memupuk dan mengembangkan kasih bagi sesama. Kasih menggambarkan arti yang luas bahkan mengartikan tentang banyak hal termasuk di dalamnya soal keadilan dan kebenaran. Menyikapi keadaan masa kini, terdengar gaung memohon keadilan dan kebenaran menggema di sana-sini. Itu disebabkan karena telah terkikisnya kesadaran dan perasaan untuk hidup dalam keadilan dan kebenaran akibat kepetingan diri sendiri. Banyak yang kini mengejar tujuan hanya untuk kesejahteraan diri sendiri, dan ada yang berusaha meraih harapan hanya untuk keuntungan dan kepuasan pribadi atau kelompok. Tindakan ini tak hanya sekedar mengikis rasa adil dan benar tapi juga sampai menghilangkan rasa itu.
Jikalau kita melihat hal ini terjadi, jelas ini menggambarkan tindakan hidup yang tidak berkenan dan tidak takut akan Tuhan. Bahkan, tindakan ini jelas memperlihatan tidak terjadinya pertobatan dan pembaharuan seutuhnya bagi mereka yang melakukan hal demikian. Maka kepada setiap pribadi kita waktu ini, perlu diingatkan kembali tentang pertobatan yang mengubahkan serta mewujudkan pertobatan dalam tindak hidup yang benar. Demikian hal ini juga yang jauh sebelumnya pernah ingatkan oleh Nabi Yehezkiel kepada bangsa Israel (Yehuda) masa mereka ada di Babel (pembuangan). Yehezkiel menyampaikan pesan yang datang dari Allah kepada bangsa Yehuda pada masa awal pembuangan di Babel. Yehezkiel menanamkan prinsip “orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati tetapi yang bertobat tetap hidup” masing-masing dihakimi menurut perbuatannya sendiri (Yehezkiel 18:1-32). Oleh sebab itu, pasal 33:1-20 berisi tentang ajakan dan ajaran kepada umat supaya boleh hidup dalam pertobatan.
Yehezkiel diberikan tanggungjawab supaya dalam hal ini menjadi penjaga (Ibr: tsopeh) bagi bangsa Yehuda. Penjaga yang dimaksudkan bukanlah seorang yang bertugas supaya melindungi bangsa dari ancaman orang lain dan perang, tetapi diartikan menjadi seorang yang menyampaikan pesan Allah yang penting kepada bangsa. Pesan yang bukan datang karena keinginan pribadinya kepada umat tetapi datang dari Allah. Tanggungjawab ini bukanlah hal mudah, sebab menyangkut keselamatan yang akan diterima oleh umat. Karena itu ia harus terus memperingatkan umatnya agar selalu hidup sesuai dengan kehendak Allah, sebab jikalau tidak bahaya mengancam umatnya. Pedang (ayat 2) akan dilihat oleh penjaga menimpah umatnya, merupakan gambaran penghukuman yang akan dinyatakan Allah. Sangkakala menjadi peringatan akan hal itu. Maka jikalau penjaga melihat pedang itu datang, maka ia harus meniup sangakala agar umat mendengarnya dalam harapan mereka dapat bertobat. Tetapi jika mereka tidak mau mendengarkannya mereka akan mati karena kesalahannya. Sebaliknya jika penjaga telah melihat dan tidak memberikan peringatan itu, umatnya menjadi korban dan Tuhan Allah menuntut pertanggungan jawab atas nyawa umatnya. Oleh karena itu tugas Yehezkiel ini bukanlah tugas yang gampang, melainkan membutuhkan kekuatan dari Allah.
Peringatan sangkala itu sebenarnya tak hanya menggambarkan soal tiupan peringatan biasa, tetapi dalam bentuk firman Allah yang diberikan kepada umat yang disampaikan oleh penjaga itu. Tujuannya agar mereka mau dengan sungguh bertobat dari kehidupan yang jahat. Sebab orang jahat akan mati dalam kesalahannya. Maka mereka harus mendengarkan firman dan melakukannya supaya mereka tetap hidup. Seorang penjaga dengan tanggungjawabnya berusaha terus mengingatkan, jika mereka yang jahat mendengar dan bertobat, ia akan menikmati hidup tetapi kepada mereka yang jahat dan tidak mau mendengar mereka akan mati, tetapi penjaga telah menyelamatkan nyawanya. Allah mengingikan supaya umat tetap hidup, maka Ia merindukan pertobatan. Allah tidak berkenan atas kematian orang fasik, maka pertobatan orang fasik menjadi hal yang berkenan (Ibr: Khapats: mengaharapkan, meninginkan, senang) bagi-Nya. Umat yang bertobat adalah umat yang mau diperbaharui dan dipulihkan lalu hidup dalam kebenaran yang sesungguhnya. Mengapa dikatakan kebenaran yang sesungguhnya ? Yehezkiel menyentil soal orang benar dan orang jahat (ayat 12-16). Ia mengatakan kebenaran orang “benar” tidak dapat menjadi jaminan untuk selamat. Sebab orang “benar” tanpa pertobatan dan masih hidup dalam dosa dia akan mati. Ia hidup dalam kebenaran tetapi kebenaran itu berasal dari kekuatan diri sendiri dan perbuatan yang curang. Maka ada istilah “apa yang kita sangka benar belum tentu benar dihadapan Tuhan” karena masih ada noda yang menempel. Maka orang benar sesungguhnya ialah mereka yang mau bertobat dan hidup dalam kebenaran juga keadilan dari Allah sehingga dosa yang telah ia lakukan tidak akan diingat-ingat lagi, ia pasti hidup.
Ada hal menarik yang disampaikan pada akhir pesan pertobatan Yehezkiel pada pasal ini. Umat mengatakan tindakan Tuhan tidak tepat. Bagi umat, pemahaman mereka orang berdosa atau orang jahat pasti dihukum dan tidak diberikan kesempatan untuk hidup. Tetapi bagi Tuhan Allah mereka yang mau bertobat diterimanya dan dibiarkan tetap hidup. Inilah yang dimaksud dengan keadilan Allah. Ketika mendengar kata keadilan atau adil, kebanyakan kita berpikir bahwa adil harus sama rata (50:50), tetapi adil dalam pandangan Allah untuk diajar kepada umatnya, bukan sekedar membagi sama rata, tetapi bertindak berdasarkan apa yang dilihatnya berkenan. Umatnya merespon kehendak Allah dengan benar dan Allah menyatakan perkaranya. Ia yang memiliki hak untuk menghakimi setiap umatnya berdasarkan apa yang telah mereka lakukan.
Maka dari apa yang telah dipesankan Yehezkiel kepada umatnya, kitapun merenungkan tentang hal ini untuk direalisasikan dalam hidup kita masa kini. Sebagai orang percaya yang telah dipilih, dikuduskan dan diselamatkan, kita terus diajak untuk hidup dalam pembaharuan diri. Bahkan kita masih terus diberikan kesempatan untuk dapat bertobat dan meninggalkan kehidupan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Tuhan menyediakan kesempatan itu bagi kita dan harapannya kita menggunakan kesempatan itu dengan baik. Ketika kita datang dalam pertobatan yang sungguh, Dia pasti menyambut dan mengampuni. Teruslah mendengarkan firman-Nya dengan taat dan melakukannya dengan setia sebagai terang yang menunjukan arah yang tepat dalam hidup kita. Pertobatan pada akhirnya akan melahirkan tindak kebenaran dan keadilan, untuk kita lakukan kepada sesama yang menuntun kita supaya tetap hidup dan menjadi berkat. AMIN








































