
Kebanyakan di antara kita pernah mendengar lagu berjudul “Keluargaku” yang dinyanyikan oleh Robert dan Lea Sutanto. Sepenggal kutipan lirik lagu ini:
Bersama k’luargaku melayani Tuhan. Bersatu s’lamanya mengasihi Engkau…
Salah satu lagu yang populer bagi jemaat Kristen sekarang ini, dan banyak dinyanyikan oleh pasangan suami istri yang baru dalam ibadah peneguhan dan pemberkatan nikah. Setiap liriknya mengandung makna yang mendalam, mengungkapkan ikatan yang tak tergoyahkan dan komitmen sebuah keluarga untuk melayani Tuhan bersama.
Jauh sebelum lagu ini diciptakan dan populer, ada pasangan suami istri yang hidup pada abad pertama, yang melayani Tuhan bersama. Mereka adalah Akwila dan Priskila.
Akwila adalah seorang Yahudi yang tentu menjadi percaya kepada Yesus. Istrinya Priskila juga demikian. Sebagai suami istri, mereka bersama-sama dalam pekerjaan membuat tenda. Ketika mereka berada di Korintus, mereka bertemu dengan Paulus. Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, mereka tinggal bersama-sama sebagai tukang kemah. Selama tinggal bersama di Korintus, juga dalam perjalanan bersama Paulus sampai di Efesus, Akwila dan Priskila mendengarkan pengajaran tentang karya keselamatan Tuhan Allah melalui Yesus Kristus yang menderita, mati di kayu salib dan bangkit dari antara orang mati, atau tentang “Jalan Allah” yang diajarkan oleh Paulus.
Dari Efesus, Paulus melanjutkan perjalanan penginjilannya ke Kaisarea, Antiokhia, Galatia, Frigia untuk menguatkan hati semua murid. Tapi Akwila dan Priskila tetap tinggal di Efesus.
Ketika mereka masih tinggal di Efesus, datanglah seorang Yahudi yang bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria, yang pada saat itu dikenal sebagai kota pusat ahli teologi. Tidak heran jika Apolos adalah seorang yang fasih berbicara dan sangat menguasai Kitab Suci. Ia telah menerima pengajaran tentang jalan Tuhan dan dengan semangat mengajar tentang Yesus di rumah ibadat. Tapi ia hanya mengetahui sebatas pemahaman dari Yohanes Pembaptis yang menekankan pada pertobatan sebagai persiapan menyambut Mesias. Karena itu ketika mendengar Apolos mengajar, Akwila dan Priskila membawanya ke rumah mereka, dan mengajarkan tentang “Jalan Allah”, seperti pengajaran yang telah mereka terima dari Paulus. Yakni pemahaman yang lebih lengkap dan luas tentang keseluruhan rencana keselamatan Allah yang dikerjakan dalam Yesus Kristus atau tentang keselamatan oleh kasih karunia melalui iman kepada-Nya, serta peranan Roh Kudus. Pada akhirnya, Apolos menjadi sangat berguna bagi orang-orang yang percaya oleh anugerah Allah. Pengajaran yang diterima dari Akwila dan Priskila, memperlengkapi pengetahuan yang sebelumnya telah dimilikinya. Dengan penuh semangat, dia membantah orang-orang Yahudi, yang menentang Injil serta memusuhi Paulus. Dia juga membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesuslah Mesias. Itulah buah pengajaran Akwila dan Priskila. Mereka mengambil peran penting pada pelayanan yang dilakukan oleh Apolos.
Sebagai suami istri, mereka tidak hanya bersama-sama mencari nafkah, tapi juga bersama-sama melayani Tuhan. Sebuah komitmen yang dibangun dalam relasi untuk bertumbuh bersama, mengenal dan melayani Tuhan.
Pada zaman sekarang, tidak jarang pasangan suami istri sibuk untuk menggapai tujuan hidup pribadi masing-masing, tujuan hidup rumah tangga atau keluarga, seperti ingin membeli rumah, mempunyai tabungan yang banyak, ingin memiliki mobil dan segala sesuatu yang bersifat materi. Pada akhirnya mengabaikan pertumbuhan rohani dan pendidikan spiritual bagi anggota keluarga. Padahal keluarga adalah tempat pertama kita bertumbuh sekaligus belajar mengenal peran dalam tanggung jawab masing-masing, mengenal hak dan kewajiban, juga mengenal Allah. Oleh karena itu peran suami istri, selanjutnya orang tua, sangat dibutuhkan untuk memberi pengajaran kristiani supaya keluarga Kristen tidak hanya mapan secara jasmani atau materi tapi juga mantap hidup kerohaniannya. Jika hidup kerohaniannya baik, itu juga akan berdampak dalam cara bergaul di tengah masyarakat.
Dari kisah Akwila dan Priskila, kita belajar bahwa keluarga Kristen harus menjadi wadah untuk menyatakan kasih Kristus dan membina iman orang lain sehingga menjadi sarana pelayanan yang kuat. Dengan demikian, keluarga Kristen akan menjadi sarana pekabaran Injil dan pendidikan Kristen untuk menopang pelayanan Gereja Tuhan demi pertumbuhan iman di masa kini dan masa yang akan datang.
Semoga firman Tuhan ini memberi kita semangat untuk bersedia menjadi alat yang dipakai Tuhan untuk mengambil peran dalam membantu, menopang, memperlengkapi pelayanan gereja Tuhan. Meskipun harus diakui bahwa pekerjaan pemberitaan Injil tidak luput dari tantangan. Tetapi ada jaminan Tuhan yakni penyertaan-Nya kepada kita yang tetap mau taat dan setia melaksanakan kerja pemberitaan Injil dan melakukan kehendak-Nya. Amin.
Pdt. Heidy Pariama, S.Th























