Pdt Novri Wohon Pendeta Jemaat GMIM Sion Suluun Satu Wilayah Tareran Dua
Marahkah engkau ketika Yesus duduk bersama orang berdosa? Ataukah bersyukurkah engkau bahwa ada kesempatan juga bagimu?
Marthin Luther sang Reformator Gereja dahulu ada seorang rahib ordo Agustinian dan di masa mudanya ia sangat dibebani dengan apa yang disebut Anfechtungen, pergulatan batin dan cobaan-cobaan yang berasal dari iblis. Luther merasa tertekan dan berupaya untuk menyenangkan Allah. Ia berharap Allah memandangnya layak. Namun dalam kenyataannya ia merasa jauh dari perkenanan Allah. Ia bergumul tentang “Kebenaran” (Righteousness) dan Pembenaran (Justification). Luther terus bertanya-tanya bagaimana seseorang yang bersalah karena dosa dapat dibenarkan?
Senada dengan itu Bapa Gereja Agustinus melukiskan dirinya sebagai insan yang mendamba, yang haus, yang penuh cinta dan mencari kebahagiaan. Dahaga jiwanya ia habiskan dengan mengumbar hasrat seksualnya. Ia mengaku bahwa ia tidak pernah mendapatkan damai abadi. Hatinya selalu tidak tenang (cor inquietum). Agustinus memakai dua istilah incurvatus dan gravitas. Incurvatus berarti bahwa daya spiritual manusia hanya terarah pada dirinya sendiri dan tertuju untuk kepuasan pribadinya. Manusia menjauh dari Allah, yang seharusnya ia cintai dan layani. Ketika manusia mencintai dirinya sendiri, maka manusia tidak mampu berbuat yang lain. Ia tertekan dan terbelengu (gravitas). Ia tidak dapat melepaskan diri.
Dari kedua tokoh ini, nyata bagi kita bahwa manusia tidak dapat melepaskan dirinya sendiri dari belenggu dosa. Diperlukan Anugerah Allah, Kasih karunia dari Allah yang membebaskan manusia dari belenggu dosa. Bagi Luther Anugerah adalah Allah yang berkata “Aku mengampunimu” dan Bagi Agustinus Anugerah Allah menyembuhkan. Setiap orang “sakit” dalam keberdosaan mereka dan memerlukan jamahan Sang Tabib Agung.
Injil Yohanes di tulis bersama oleh komunitas yang disebut komunitas “Murid yang dikasihi” dan pemimpin komunitas ini adalah Yohanes yang disebut “Murid yang dikasihi”. Yohanes dan murid-muridnya bersama-sama menulis injil ini atas bimbingan Roh Kudus.
Bacaan ini adalah sebuah kisah yang sangat epic. Narasi yang indah. Kisah yang luar biasa tentang Kasih Karunia Allah. Ketika Yesus mengajar di Bait Allah dalam perayaan pondok Daun (Sukkot) atau perayaan syukur panen serta pemeliharaan Allah bagi Israel di padang gurun. Jadi bangsa Israel membuat tenda-tenda dengan ranting palem dan dedaunan. Ketika Yesus sedang duduk dan mengajar dalam perayaan itu, maka datanglah ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi membawa perempuan yang kedapatan berzinah (ayat 3). Dan berkata kepada Yesus Rabi perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah (ayat 4). Tertangkap Basah? Bagaimana mereka mengetahui perbuatan zinah tersebut? Apakah mereka menunggu dan langsung mengrebek? Apakah ini sebuah jebakan untuk menjebak Yesus? Apakah perempuan ini hanya sebuah umpan untuk menangkap dan menjebak Yesus? Dan ternyata memang demikian. Perempuan ini dijadikan umpan. Ayat 6 mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Dimanakah laki-laki yang bersamanya? Mengapa hanya perempuan? Jika membandingkan dengan Imamat 20:10, Ulangan 22:22 haruslah keduanya dihukum, baik laki-laki maupun perempuan. Jelaslah bahwa para ahli taurat dan orang farisi ingin menjebak Yesus. Dizaman ini kadang dalam kondisi dimana kita ingin mencapai sesuatu membuat orang lain dirugikan, dipermalukan. Demi kepentingan, kita halalkan berbagai cara. Tidak penting orang lain yang penting kita senang dan menang.
Membayangkan kisah ini cukup menyentuh hati. Di “Grebek”, bagaimana tentang rasa malu dari perempuan itu?, banyak orang ada bersama-sama di tempat itu, di jalan-jalan, di tempat kejadian. its okay mungkin ada yang berpikir, tidak apa-apa, dia katu pe salah. Benar bahwa dosa apapun tidak ditoleransi Allah. Allah tidak menghendaki orang percaya berbuat dosa. Tapi mari juga kita tidak menghakimi orang lain. Mengapa kita menganggap diri benar dari dosa orang lain?. Banyak dari kita selalu merasa lebih benar, lebih rohani, lebih suci dari orang lain. Yang menyebabkan kita malah terjebak pada dosa kesombongan rohani.
Ketika para ahli taurat dan orang farisi terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (ayat 7). Batu sudah di tangan, hukuman diangap pantas, hidupnya siap diakhiri, tapi Yesus tidak membiarkan itu. Yang muda melihat kepada yang tua, yang tua melihat ke dalam hati mereka. Satu persatu melepaskan batu di tanggannya. Yesus bertanya: Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau? Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan”. Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”.
Pertanyaan awal dari tulisan ini, bersyukurkah engkau bahwa ada kesempatan bagimu? Bagi kita semua orang berdosa, ada Kasih Karunia Allah, ada Anugerah Allah yang mengampunimu. Kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau”. Yesus meninggalkan pesan, bukan di pasir/debu yang bisa hilang tapi di atas kayu salib. Tidak hanya dengan tanganNya tetapi dengan darahNya. Dan berkata “Aku mengampunimu”. Pergilah dan janganlah berbuat dosa lagi. Kasih Karunia Allah di responi dengan sikap Pertobatan. Bahwa Kasih Karunia Allah bukanlah Kasih Karunia yang murahan. Pengampunan yang diberikan oleh Yesus haruslah di responi dengan Pertobatan. Pengampunan Allah bukanlah izin untuk terus berbuat dosa tapi hidup yang terus di perbaharui Allah.
Menutup khotbah ini ada sebuah kisah tentang seorang tokoh yang bernama John Newton, ia adalah seorang kapten kapal budak. Pada 21 Maret 1748 ketika kapal yang ditumpanginya akan kembali pulang, ia berjumpa dengan badai yang besar dan hampir menenggelamkan kapalnya. John Newton pun berdoa. Dengan kata-kata yang sudah bertahun-tahun tidak ia gunakan. John Newton memohon, “Tuhan, kasihanilah kami”. Beberapa jam kemudian badai berhenti dan iapun selamat. Dan secara bertahap hidupnya berubah, ia melayani Tuhan dan menjadi seorang pendeta serta menciptakan sebuah lagu yang sampai sekarang dinyanyikan “Amazing Grace, how sweet the sound
That saved a wretch like me
I once was lost but now am found … “
Ajaib benar, Anugerah pembaharu hidupku, ku hilang buta bercela olehNya ku sembuh.
Yesus tidak pernah meremehkan dosa, tetapi Ia juga tidak pernah berhenti mengasihi orang berdosa. Salib, belas kasih dan keadilan Allah bertemu. Setiap orang yang datang kepada Kristus tidak hanya menerima pengampunan tetapi juga dipanggil untuk menjalani hidup baru. AMIN.
(10) Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah...