
Sukacita dan ucapan Syukur mewarnai kehidupan di Minggu Adven keempat yang membawa kita semakin dekat pada perayaan Natal. Karena itu selaku umat yang percaya kita diajak untuk senantiasa memuliakan Tuhan. Menyanyi bagi Tuhan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Maria. Tindakan yang dilakukannya adalah ungkapan iman yang lahir dari hati yang mengenal dan mengalami karya besar Tuhan Allah dalam kehidupannya. Allah berkenan memakai Maria menjadi alat keselamatan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama.
Bacaan ini tidak dapat dipisahkan dengan ayat-ayat sebelumnya. (ayat 26-38) dikisahkan bahwa Allah menyuruh malaikat Gabriel ke Nazareth untuk menjumpai Maria yang bertunangan dengan Yusuf dan menyampaikan bahwa ia akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah Maria menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Roh Kudus akan turun atas Maria, dan anak yang akan dilahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Selanjutnya (ayat 39-45) mengisahkan tentang perjumpaan Maria dan Elisabet di Yehuda. Ketika Maria memberi salam kepada Elisabet, maka anak dalam rahimnya melonjak. Elisabet pun berseru: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Karena mengalami peristiwa yang luar biasa, maka Maria pun kemudian membawakan nyanyian pujian untuk memuliakan Tuhan.
(ayat 46-56) “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku”. Mengapa Maria terpanggil untuk memuji Allah? Bukankah ia seorang perawan, perempuan yang masih muda, kemudian tiba-tiba hamil padahal masih bertunangan dengan Yusuf dan tidak bersetubuh dengannya? Maria dapat memuji Tuhan setelah melewati pergumulan dan beban penderitaan batin. Tidaklah mudah bagi Maria menerima kenyataan ini, tetapi Maria bangkit dari rasa keterpurukannya dan memuji Allah. Iman percaya Maria menjadi kokoh dan kuat bahwa hal yang tidak mungkin bagi manusia ternyata semua mungkin bagi Allah. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Kuasa Allah yang menaunginya membuat dia memiliki kemampuan melawan rasa malu terhadap dunia, melawan rasa takut dan khawatir yang semuanya diganti dengan sukacita dan syukur karena Allah memperkenankannya menjadi ibu dari anak Allah.
Maria juga bergembira karena Allah Juruselamat yang memperhatikan kerendahan hamba-Nya; Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar; rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia; Ia memperlihatkan kuasa-Nya, Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar; Ia menolong Israel, hamba-Nya.
Mengapa Allah memilih Maria dari Nazareth? Karena Allah memiliki hak-Nya untuk memilih siapa saja sesuai kehendak-Nya. Allah memilih Maria bukan karena kecantikannya, tetapi Allah memilih Maria karena kerendahan hatinya, dan Maria memuliakan Tuhan Allah bukan hanya karena Tuhan telah memperhatikan dia secara pribadi dalam keadaannya yang lemah, miskin dan yang memiliki status sosial yang rendah, tetapi lebih dari pada itu bahwa Tuhan menolong Israel, karena Ia mengingat Rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.
Di bawah tema “Rahmat Tuhan atas orang-orang yang takut akan Dia”, firman Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa: Allah dapat memakai siapa saja dalam Ia menjalankan karya Keselamatan-Nya bagi dunia ini, tanpa memandang siapa kita, status sosial kita, jabatan, kedudukan, dan lain sebagainya. Tetapi Tuhan Allah mau memakai orang yang hidup taat dan setia pada perintah-Nya, dan yang takut akan Dia. Dan kepada orang yang seperti inilah, Tuhan Allah menjanjikan rahmat-Nya turun temurun. Artinya, kasih-Nya tidak berhenti kepada satu orang saja, bukan hanya untuk Maria, bukan hanya untuk orang-orang tertentu, tetapi juga untuk semua orang rahmat Tuhan Allah tidak pernah berhenti.
Sebab itu, sekali lagi kita diingatkan untuk menghindarkan diri dari sikap dan perilaku yang tidak berkenan dihadapan Tuhan Allah. Sebaliknya marilah kita mencontohi sikap hidup Maria yang sungguh-sungguh hidup dalam kekudusan dan takut akan Tuhan. Kehidupannya untuk memuliakan Tuhan. Maka demikian juga kehidupan kita. Dimana ada kerendahan hati, kesederhanaan, berdamai dengan segala sesuatu, disitu berkat Tuhan melimpah atas kita. Selamat merayakan Minggu Adven ke IV dan selamat menyambut Natal. Amin.























