
Saudara yang diberkati Tuhan, bayangkan anda sedang melakukan perjalanan jauh ke sebuah tempat yang sangat indah, misalnya ke sebuah kota pegunungan yang megah. Di perjalanan, anda tidak tahu jalan, maka anda sangat bergantung pada peta. Anda akan melihat tanda di peta: “Jalan rusak,” “Belok kiri,” atau “Hati-hati jurang.” Peta itu sangat membantu, bahkan mungkin menyelamatkan hidup anda dari bahaya. Tetapi, ketika anda akhirnya tiba di kota pegunungan tersebut dan sudah berdiri di pusat kotanya, apakah anda masih perlu memegang peta itu di depan wajah anda setiap saat? Apakah anda akan terus menunjuk-nunjuk peta tersebut dan berkata, “Peta ini adalah rumahku”? Tentu tidak. Peta itu berguna untuk menuntun anda ke tujuan, tetapi peta bukanlah tujuan itu sendiri.
Hukum Taurat seperti peta itu. Ia menunjukkan di mana “lubang-lubang” dosa dalam hidup kita dan ke mana arah yang benar. Namun, Taurat bukanlah tujuan akhir. Kristus adalah tujuan akhir. Ketika kita sudah sampai di dalam Kristus, kita tidak lagi “memegang peta” (Taurat) sebagai satu-satunya pegangan keselamatan kita, karena kita sudah berada di dalam realitas keselamatan itu sendiri.
Setelah Paulus meninggalkan jemaat Galatia, datanglah sekelompok pengajar kaum Yudais (orang Kristen berlatar belakang Yahudi) yang mengajarkan bahwa iman kepada Yesus Kristus saja tidak cukup untuk keselamatan, mereka memaksakan orang Kristen Galatia yang bukan Yahudi untuk di sunat dan menaati berbagai peraturan hukum Taurat yang diyakini sebagai syarat mutlak untuk memperoleh keselamatan atau di sebut “anak Abraham” yang sejati. Perbedaan-perbedaan antara Yahudi dan bukan Yahudi pada waktu itu sering menjadi konflik yang memisahkan satu dengan yang lain terlebih ketika ajaran-ajaran seperti itu muncul.
Galatia 3 : 15-29 menjadi bagian dari surat yang penuh emosi yang ditulis Paulus untuk menanggapi ajaran-ajaran menyimpang yang ia sebut sebagai “injil lain” (Gal.1:6), sebagai sebuah pembelaan terhadap Injil yang ia khotbahkan. Pada bagian sebelumnya dengan keras Paulus menegur mereka “hai orang-orang Galatia yang bodoh” dan menjelaskan tentang persoalan yang terjadi bahwa tidak seorang pun dibenarkan di hadapan Allah oleh hukum Taurat, tetapi orang benar hidup oleh iman. Karena mereka sebelumnya telah percaya Yesus Kristus tetapi menjadi menyimpang setelah ajaran lain itu datang dengan mengatakan percaya saja pada Taurat. Jadi apakah hukum Taurat itu salah ? Kenapa hukum Taurat diberikan jika tidak membenarkan? Apa tujuan hukum Taurat diberikan ? Mari kita melihat apa kata firman Tuhan hari ini.
Paulus mengingatkan bahwa keselamatan adalah janji Allah kepada Abraham. Janji yang diberikan jauh sebelum hukum Taurat. Paulus menggunakan sebuah ilustrasi wasiat, di mana jika sebuah surat wasiat sudah disahkan, tidak ada seorang pun bisa membatalkannya atau menambahkan. Jika keselamatan adalah wasiat atau janji, maka Ia memberi keselamatan bukan berdasarkan latar belakang atau identitas kita, tetapi karena janji-Nya. Ingatlah bahwa janji Allah kepada Abraham diberikan 430 tahun sebelum hukum Taurat muncul. Jika keselamatan didasarkan pada janji Allah kepada Abraham (yang diterima melalui iman), maka hukum Taurat yang datang jauh setelahnya tidak bisa membatalkan janji tersebut.
Saudara yang diberkati Tuhan, keselamatan bukanlah “upah kerja” yang kita kejar dengan daftar panjang peraturan. Seperti halnya ahli waris menerima harta secara sah mutlak berdasarkan surat wasiat yang telah disahkan, orang-orang percaya juga menerima keselamatan semata-mata berdasarkan janji (wasiat) anugerah Allah, bukan karena usaha melakukan hukum Taurat. Hukum Taurat itu baik adanya namun Paulus menjelaskan bahwa fungsinya terbatas, dengan menggunakan penyebutan paidagogos yang mengartikan hukum Taurat seperti seorang pengasuh. Tugas pengasuh bukan untuk menjadi orang tua tetapi untuk menjaga anak/pengawas. Hukum Taurat berfungsi untuk menunjukkan kepada kita betapa berdosanya kita seperti cermin yang memperlihatkan wajah kita yang kotor. Cermin itu sangat berguna, tetapi jangan salah paham : cermin tidak bisa membersihkan wajah yang kotor, cermin hanya menunjukkan di mana kotoran itu berada. Ketika Yesus Kristus datang, kita tidak lagi membutuhkan paidagogos atau “pengasuh” yang menekan kita dengan hukum, karena kita sudah dibawa menuju kepada Yesus Kristus (ayat 23-24).
Sehingga orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus memiliki status baru yaitu anak-anak Allah. Jika kita berada di dalam Kristus berarti kita adalah anak-anak Allah melalui iman (ayat 26). Identitas baru ini menegaskan bahwa orang percaya lahir dari iman kepada Yesus Kristus dan menjadi satu di dalam-Nya. Di ayat 28 yang menjadi inti dalam perenungan kita saat ini :
“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”
Mengungkapkan perbedaan Yahudi-Yunani, hamba-merdeka, dan laki-laki-perempuan adalah perbedaan yang bersifat mutlak dan kaku pada waktu itu. Tetapi Paulus mengatakan bahwa perbedaan-perbedaan itu “tidak ada lagi” di dalam Kristus. Semua orang percaya dipersatukan dalam Yesus Kristus sebagai satu komunitas iman yang setara. Sehingga kalau di dunia, kita dibeda-bedakan oleh status, suku, dan kemampuan. Tetapi di hadapan Allah, melalui iman, status kita tunggal : Anak-anak Allah. “Di hadapan Tuhan, tidak ada orang yang lebih tinggi dari yang lain. Kita semua berdiri di level yang sama. Tidak peduli apa latar belakang suku, status sosial, atau gender kita, saat kita datang kepada Kristus, kita semua mendapatkan akses dan kasih yang sama dari Allah. Di tengah dunia yang sering terpecah-belah, pesan kesetaraan inilah yang harus kita bawa: di dalam Yesus, kita semua adalah satu keluarga. Akan tetapi bukan berarti perbedaan kodrat atau peran kita hilang begitu saja. Laki-laki tetap laki-laki, wanita tetap wanita, dan setiap orang memiliki peran masing-masing yang diatur. Kesetaraan status di hadapan Allah ini tidak serta-merta menghapus perbedaan peran atau aturan praktis.
Jadi, poin utamanya adalah: tidak ada orang Kristen yang ‘lebih istimewa’ daripada yang lain. Seorang pria yang sukses dan seorang wanita yang sederhana memiliki derajat yang sama di mata Tuhan. Tidak ada yang lebih berhak atas kasih Allah, dan tidak ada yang lebih tinggi aksesnya kepada-Nya. Kita semua adalah ahli waris yang setara. Jika kita milik Kristus, maka kita adalah keturunan Abraham. Kita bukan orang asing yang mengemis keselamatan melainkan ahli waris yang sah atas janji Allah.
Saudara yang diberkati Tuhan, marilah kita hidup sebagai satu tubuh yang utuh. Biarlah dunia melihat gereja yang tidak tersekat oleh tembok-tembok perbedaan, melainkan gereja yang satu di dalam kasih Kristus. Karena jika kita adalah satu di dalam Kristus, maka kita adalah keluarga yang tidak akan terpisahkan oleh apa pun. Amin























