
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa perbedaan bisa menjadi sumber kekuatan atau justru sebaliknya bisa menjadi sumber konflik. Sebab, di satu sisi perbedaan adalah sebuah kekayaan yang bisa digunakan untuk mencapai sesuatu, seperti bangsa indonesia yang memiliki begitu banyak perbedaan mulai dari perbedaan ras, suku, budaya, bahasa dan agama. Semua ini adalah anugerah Tuhan yang menjadi sumber kekuatan untuk saling melengkapi, saling belajar, saling menerima dalam kekurangan dan kelebihan demi mencapai kehidupan yang harmonis. Akan tetapi, di sisi yang lain karena perbedaan seperti ini juga justru menjadi sumber masalah yang dapat memecah belah bangsa, dan yang menjadi pemicunya yaitu adanya kelompok tertentu yang merasa paling besar, paling benar, paling hebat sehingga menolak, merendahkan bahkan menghakimi kelompok yang lain. Akibatnya, bukan kesatuan dan keharmonisan yang tercipta melainkan perselisihan yang membawa perpecahan.
Demikian juga halnya dalam kehidupan bergereja, masalah seperti ini sudah sejak lama merusak keutuhan tubuh Kristus. Sebab, selalu ada orang atau kelompok tertentu dalam gereja yang merasa lebih rohani dari pada yang lain hanya karena ia lebih banyak tahu tentang doktrin, lebih rajin beribadah, lebih banyak mengikuti kegiatan-kegiatan gereja sehingga dengan mudah menghakimi orang lain. Ada juga yang karena ia memiliki gelar yang lebih tinggi atau karena ia memiliki jabatan gerejawi sehingga merasa lebih berhak, lebih besar dan lebih hebat dalam hal memberikan pendapat maupun mengambil keputusan untuk menentukan arah sebuah pelayanan gereja, menolak pendapat orang lain, membangun jarak dengan orang lain bahkan berusaha menyingkirkan mereka yang berbeda. Pada akhirnya persekutuan menjadi tempat untuk saling menjatuhkan dan bukan menjadi tempat untuk memuliakan Allah melalui sikap yang saling menerima, saling melengkapi, saling melayani, saling membangun dan saling mengasihi sebagai anggota tubuh Kristus.
Saudara-saudara, hal ini tidak jauh berbeda dengan masalah yang dihadapi oleh jemaat di Roma yang terdiri dari orang yahudi dan non-yahudi. Kedua, kelompok ini hidup bersama tetapi membangun sekat karena perbedaan latar belakang dan pemahaman tentang kehidupan orang percaya. Berdasarkan konteks, isu yang sedang hangat adalah soal makanan. Memang di pasal ini tidak secara eksplisit atau terus terang membahas tentang isu makanan, tetapi ketika kita menyelidiki lebih jauh kita akan menemukan bahwa pasal 15 adalah lanjutan dari pasal 14 yang membahas tentang soal makanan. Bagi orang yahudi yang masih terikat dengan hukum dan tradisi tertentu menganggap tidak semua makanan bisa dimakan (daging yang di jual di pasar biasanya di anggap tidak halal karena dipersembahkan terlebih dahulu kepada dewa). sedangkan, bagi orang non-yahudi mereka meyakini tentang kebebasan kristen bahwa tidak ada makanan yang tidak halal apalagi mereka tidak terikat dengan hukum dan tradisi yahudi sehingga menganggap tidak wajib untuk melakukannya. Perbedaan ini kemudian menjadi pemicu ketegangan jemaat karena disatu sisi orang yahudi menganggap orang yunani kurang kudus sedangkan di sisi lain orang yunani menganggap orang yahudi terlalu legalistik karena masih hidup dalam bayangan hukum taurat. Akibatnya, orang yahudi dengan mudah menghakimi orang non-yahudi dan sebaliknya, orang non-yahudi meremehkan bahkan mengejek orang yahudi sebagai kelompok yang memiliki iman yang masih lemah.
Maka, di tengah-tengah situasi yang demikian, Paulus menyapa jemaat di Roma dengan tulisannya di pasal 15. Di sini Paulus membedakan kedua kelompok ini dengan kelompok yang kuat dan kelompok yang lemah (ay 1), kelompok yang kuat adalah mereka yang memiliki kematangan iman dalam memahami kekebasan kristen (orang non-yahudi) sedangkan kelompok yang lemah adalah mereka yang masih mengikatkan diri dengan tradisi dan kurang menghargai kasih karunia dalam injil (orang yahudi). Bagi Paulus persoalan yang dihadapi oleh jemaat adalah masalah serius karena ini bukan lagi berbicara tentang isu makanan tetapi sikap seseorang kepada yang lain seperti saling menghakimi, merendahkan, menghina dan mengejek ini bisa mengakibatkan persekutuan jemaat yang terkotak-kotak dan persekutuan yang demikian tidak mungkin memuliakan Allah terlebih lagi, menurut Paulus kurangnya kesatuan dan penerimaan antara satu dengan yang lain di dalam jemaat dapat merusak rencana Allah sejak semula. Oleh karena itu, Paulus meminta kepada mereka yang kuat untuk menanggung kelemahan mereka yang tidak kuat. Kata “kuat” dalam bahasa yunani adalah dunatos yang berarti mampu, jadi kuat atau mampu di sini berdasarkan konteks merujuk pada kedewasaan iman seseorang dalam memahami hal-hal rohani. Mereka yang kuat tidak boleh menjadi sombong dan bermegah diri sehingga menghina orang lain. Sebab, mereka menjadi kuat bukan karena usaha mereka melainkan anugerah Allah dan anugerah Allah ini diberikan supaya mereka dapat menanggung kelemahan orang lain. Kata “menanggung” dalam bahasa yunani bastazo yang berarti bisa menanggung, mengangkat atau juga menahan. Sedangkan, kata “kelemahan” dalam bahasa yunani adalah asthenema yang berarti kelemahan atau keberatan hati nurani. Dengan kata lain, Paulus meminta mereka yang kuat secara rohani untuk menahan diri atas keberatan hati nurani mereka yang lemah. Seolah-olah Paulus meminta kepada orang non-yahudi yang memakan daging untuk menahan diri memakannya supaya tidak menjadi batu sandungan bagi orang yahudi yang memiliki keberatan hati nurani untuk memakan sesuatu yang dianggap tidak halal. Hal ini bukan dimaksudkan untuk berkompromi dengan orang lain tetapi justru demi kepentingan untuk membangun kesatuan tubuh Kristus di atas dasar Injil supaya kemuliaan Allah dinyatakan, seperti Paulus sendiri dalam 1 Kor 8:13 tidak memakan daging untuk selama-lamanya supaya ia tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan ia menanggung segala sesuatu itu agar Injil tidak terhambat.
Selanjutnya, untuk lebih meyakinkan jemaat supaya mereka lebih mengutamakan kesenangan bersama dari pada kesenangan pribadi yang bisa membuat persekutuan anggota tubuh Kristus menjadi retak karena masing-masing kelompok merasa lebih superior. Maka, Paulus menempatkan Kristus sebagai pusat teladan yang harus diikuti. Sebab, Kristus juga seharusnya bisa mengikuti kesenanganNya sendiri, Ia bisa menolak untuk turun ke dalam dunia menggantikan manusia yang berdosa, Ia bisa menolak cawan penderitaan dan kematian-Nya. Akan tetapi Puji Tuhan karena Kristus lebih memilih untuk mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang manusia, Kristus dengan rela menanggung cercaan manusia kepada Allah sebagai bentuk pemberontakan manusia kepada Allah akibat dosa, bahkan Kristus juga dengan rela menerima kita manusia berdosa tanpa melihat atau menunggu adanya kebaikan yang timbul di dalam diri kita. Semua ini Kristus lakukan supaya Allah senantiasa di muliakan, karena di dalam dan melalui Kristus semua rencana Allah tidak gagal melainkan tergenapi. Apakah isi dari rencana Allah? Yaitu, diterimanya masuk dalam persekutuan bersama-sama dengan Allah setiap orang yang ada di dalam (percaya) Kristus baik orang yahudi maupun orang non-yahudi (mewakili penerimaan bangsa-bangsa lain). hal ini, di perjelas Paulus dengan mengutip beberapa perjanjian lama untuk menegaskan bahwa rencana keselamatan bagi bangsa-bangsa lain bukanlah rencana cadangan melainkan rencana yang sudah ada sejak lama bahkan sebelum dunia di jadikan, Allah sudah menetapkan Kristus menjadi penghubung, menjadi jembatan, menjadi perantara untuk Allah menerima kembali manusia berdosa. Maka dari pada itu di ay 7, Paulus mengajak sesama anggota jemaat untuk saling menerima satu dengan yang lain seperti Kristus yang terlebih dahulu menerima mereka untuk kemuliaan Allah. Sebab, dengan penerimaan yang dilakukan oleh Kristus ini, Ia telah merobohkan tembok yang memisahkan mereka. Tidak ada lagi yahudi, tidak ada lagi non-yahudi, mereka yang ada di dalam Kristus adalah satu tubuh sebagai warga kerajaan Allah.
Sekarang saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan, bagaimana dengan kita gereja masa kini? Sudahkah kita menerima satu dengan yang lain tanpa memandang status, jabatan atau latar belakang orang lain? Ataukah kita masih menciptakan jarak dengan orang lain dan hanya menerima orang-orang tertentu sesuai standart dan level yang sama dengan kita? Sudahkah kita yang kuat secara rohani membimbing dan menjadi teladan bagi mereka yang lemah? Ataukah justru kita yang kuat menindas dan menghakimi mereka yang lemah? Sungguh hal yang ironis saudara-saudara, kalau ada dari kita di dalam gereja yang sebenarnya tidak layak ini malah sulit merendahkan diri dan menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain. Sebab, orang seperti ini tidak mengerti anugerah Tuhan di dalam Injil sehingga menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat bukan Kristus yang menjadi pusat. Seharusnya ketika Kristus menjadi pusat teladan dalam kehidupan gereja maka segala bentuk kepentingan pribadi, kesombongan dan keegoisan tidak mungkin ada, yang ada hanyalah kerendahan hati, cinta kasih yang saling melayani, saling melengkapi, saling menerima, saling mendoakan, saling menopang, bahkan saling berkorban demi keutuhan tubuh Kristus. Ingatlah, saudara-saudara Allah tidak menginginkan perpecahan sebab, perpecahan dalam bentuk apapun adalah tanda bahwa gereja tersebut tidak memuliakan Allah. Oleh karena itu, terimalah satu akan yang lain sebab Kristus telah menerima kita semua untuk kemuliaan Allah. menutup perenungan kita, ada sebuah ungkapan dari seorang teolog bernama John Stott berkaitan dengan tema ““Terimalah Satu Akan Yang Lain Untuk Kemuliaan Allah”, John Stott mengatakan “Ayat ini (Roma 15:7) merangkum inti dari Injil: diterimanya kita oleh Allah melalui Kristus. Karena itu, saling menerima dalam gereja bukanlah pilihan — melainkan cerminan dari Injil itu sendiri” dimana ada penerimaan, disitu ada Injil, dimana ada Injil, disitu kemuliaan Allah menjadi nyata.
Dengan demikian, Kiranya Roh Kudus menolong kita semua untuk melakukan Firman Tuhan. Amin.
























