
Syalom. Damai di hati.
Surat kepada Orang Ibrani sebagai bagian integral Perjanjian Baru lebih mirip khotbah atau esai teologis daripada surat biasa, dan penulisnya pun tidak diketahui (orang Kristen awal menduga Paulus, tetapi sebagian besar sarjana saat ini tidak setuju karena gaya bahasanya berbeda dengan gaya bahasa Paulus).
Surat ini ditulis untuk mendorong orang-orang Kristen Yahudi yang menghadapi penganiayaan dan tergoda untuk kembali kepada Yudaisme.
Surat ini menyatakan bahwa Yesus Maha Agung. Oleh karena itu Dia lebih besar dari malaikat (Ibrani 1–2), lebih besar dari Musa (Ibrani 3), dan lebih besar dari imamat Lewi (Ibrani 4–7). Yesus pun membawa perjanjian baru (Ibrani 8). Pengorbanan-Nya sekali untuk selamanya, tidak seperti pengorbanan hewan yang berulang-ulang (Ibrani 9–10). Lalu khususnya relasi Yesus dengan Malaikat merupakan salah satu tema teologis utama dalam surat ini (terutama pasal 1). Di sini Penulis menyajikan Yesus sebagai pribadi yang lebih unggul daripada malaikat.
Dalam pemikiran Yahudi selama periode Bait Suci Kedua, malaikat sangat dihormati. Mereka dipandang sebagai hamba-hamba surgawi Allah. Dan Tradisi Yahudi menghubungkan malaikat dengan pemberian Hukum di Sinai. Malaikat mewakili otoritas dan kemuliaan ilahi.
Dengan ini Penulis ingin menunjukkan bahwa
Yesus bukan sekedar utusan surgawi tetapi Putra dan Wahyu Allah yang tertinggi.
Ibrani 1 itu sendiri disusun seperti rangkaian kutipan Perjanjian Lama yang membuktikan keunggulan Kristus dimana Yesus adalah Anak sedangkan mlaikat adalah Hamba.
Dalam Ibrani 1:6 dikatakan bahwa “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.” Ini menghadirkan struktur manusia menyembah Tuhan, malaikat menyembah Tuhan,
dan sekarang malaikat menyembah Yesus, dan implikasinya sangat kuat yaitu Yesus berpartisipasi dalam kemuliaan dan otoritas ilahi.
Selanjutnya kita lihat Ibrani 1:8 menggunakan bahasa kerajaan dan ilahi kepada Kristus, “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.” Ini menggambarkan Yesus sebagai raja kekal, penguasa yang adil, dan ditinggikan di atas semua makhluk surgawi.
Malaikat adalah makhluk ciptaan sedangkan Yesus digambarkan sebagai pencipta dan Tuhan yang kekal.
Dengan ini tema Yesus dan malaikat mengajarkan beberapa hal kepada kita. Pertama, Kristologi. Surat Ibrani menyajikan pandangan yang sangat tinggi tentang Kristus, yaitu kekal, ilahi, pencipta, bertahta, disuguhi/dilayani oleh malaikat. Dan hal ini menjadi dasar bagi teologi Kristen selanjutnya. Kedua, Inkarnasi. Anak Allah itu benar-benar menjadi manusia. Dan perendahan terhadap-Nya bersifat sementara (Ibrani 2:9). Namun hal ini justru memungkinkan Dia untuk berempati dengan manusia, menderita bersama manusia, dan menyelamatkan manusia.
Konteks bacaan kita adalah para pembaca Surat Ibrani yang menghadapi kesulitan (penganiayaan) dan karena itu ada kecenderungan untuk murtad dari kekristenan kembali ke keyahudian. Jadi Penulis mendorong mereka agar jangan berpaling karena Anak yang ditinggikan memerintah di atas segala kuasa dan memerintah dalam kemuliaan.
Dengannya harus dikatakan bahwa Tongkat Kerajaan Tuhan sebagai Tongkat Kebenaran menghadirkan kemaharajaan Allah yang didalamnya ada kebenaran absolut yaitu Yesus diatas segalanya harus menjadi obyek utama dan satu-satunya penyembahan kita sebagai gereja, dulu, kini dan nanti. Karena seperti kata Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:10-11).
Amin




















