DODOKUGMIM.COM, BITUNG – Anda penyuka wisata bahari? Datang saja ke Selat Lembeh Kota Bitung Sulawesi Utara. Ada terumbu karang dan habitat lainnya yang jadi “menu” untuk memanjakan mata. Pesona bawah laut Pulau Lembeh pantas jadi primadona pariwisata Sulawesi Utara.
Lebih dari 80 titik spot menyelam, ada di selat sepanjang 16 Km dan lebar sekira satu hingga dua meter ini. Lokasi ini memang belum mendunia layaknya Bali. Tapi potensi alam yang ada jika dikembangkan dengan baik, membuat Lembeh bisa menyainginya.
Peluang ini disadari Jemaat GMIM Mesias Pintu Kota Kecil Wilayah Bitung Enam. Targetnya mengembangkan pariwisata untuk peningkatan ekonomi jemaat. “Kami punya program 100 kamar homestay. Rumah-rumah jemaat yang dikembangkan untuk menjadi penginapan bagi turis lokal maupun mancanegara,” kata Ketua Badan Pekerja Majelis Jemaat Mesias Pintu Kota Kecil Lembeh Pdt. Albert Tompunu, dijumpai beberapa waktu lalu.
Warga Kelurahan Pintu Kota Kecil Kecamatan Lembeh Utara Kota Bitung ini, lanjut dia, punya mimpi besar menjadikan daerah mereka sebagai “Kampung Wisata”. “Daerah ini punya potensi sangat besar. Apalagi di Kelurahan Pintu Kota Kecil ada juga resort yang dikelola pihak swasta,” jelas Tompunu.
Keinginan ini memang tak berlebihan. Perairan Selat Lembeh memang tak pernah sunyi. Selain menawarkan pesona alam bawah laut yang mengundang wisatawan, Selat ini juga punya berbagai fungsi lain, seperti jalur transportasi lokal, tempat kegiatan-kegiatan industri, urusan kepelabuhanan, perkapalan, basis keamanan laut. Potensi ini menawarkan isi untuk pundi-pundi warga.
Selain itu, jemaat yang memiliki empat kolom sebagai wilayah pelayanan ini, mempunyai 25 persen warganya berprofesi sebagai pekerja resort, milik swasta. Melalui mereka ada banyak relasi dan jaringan yang memberi peluang bagi jemaat.

Langkah awal program 100 homestay ini, kata Tompunu, diseriusi warga jemaat melalui program bersih-bersih pantai. Kegiatan ini digelar setiap pagi hari. “Ini juga menjadi langkah konkret gereja berperan aktif dalam pelestarian lingkungan, dimulai dari lingkungan dimana gereja itu ada,” ujar dia.
Baginya, berada di daerah pesisir memberi peluang bagi Jemaat Mesias Pintu Kota Kecil untuk mengelola pantai dan memanfaatkan kekayaan laut untuk mengembangkan kehidupan jemaat. “Semoga program ini menginspirasi jemaat lain yang ada di daerah pesisir pantai,” tambah dia.
Mengapa program bersih-bersih pantai? “Kalau pantai bersih, wisatawan pasti suka datang berkunjung!” tegasnya.
Tak hanya alam nan eksotik. Budaya masyarakat Pintu Kota Keci juga menarik. Warga yang mayoritas penduduknya berasal dari Suku Sangihe ini, menyimpan berbagai tradisi lama. Mulai dari keramahan, makanan hingga tarian tradisinal. Tarian Masamper diantaranya.
Bila menginap di rumah warga, jangan lupa bangun di pagi hari untuk menikmati indahnya mentari terbit. Bahkan bila sore tiba, senja akan memanjakan mata dengan pesona jingga terbenamnya mentari.
Ingin datang ke Pintu Kota kecil? Anda hanya perlu merongoh kocek sebesar Rp. 5.000 hingga Rp.7.500. Dari Pelabuhan Ruko Pateten Aertembaga Bitung, Anda akan menghabiskan waktu sekira 20 menit, dengan menggunakan perahu taksi.
Pastinya tidak membosankan. Perjalanan ini akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang cantik, ada juga aktivitas bongkar muat sejumlah kapal berbagai ukuran, juga aktivitas perahu-perahu tradisonal warga, juga kapal-kapal perang yang terparkir di Dermaga Angkatan Laut RI.(dodokugmim/nikitasangian/*)
























