DODOKUGMIM.COM, TOMOHON – Memaknai hari ulang tahun ke-27, wilayah pelayanan Tomohon Dua menggelar webinar bertajuk “Disrupsi Digital, Society 5.0, dan Transformasi Pelayanan Gereja” pada Jumat, (29/10/2021) lalu.
Prof. Ir. Robert Molenaar, MS, Ph.D sebagai narasumber pertama, menyoroti signifikansi disrupsi dari segi teknologi dan pandemi yang mengarah pada volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Ia mengatakan, terjadinya perubahan budaya aktual di tengah pelayanan gereja dan para pemimpin gereja ke depannya, tak dapat disangkal. Untuk itu, diperlukan strategi dan metode yang tepat dan bijaksana.
“Salah satu langkah praktis adalah digitalisasi data dan informasi guna meningkatkan kualitas program dan layanan gereja,” tuturnya.

Sementara itu, Pdt. Heski L. Manus, M.Th sebagai narasumber kedua mengemukakan, gereja memerlukan kepekaan tertentu terhadap masalah-masalah yang terjadi di dunia, sambil tetap menjaga jati dirinya. Menurutnya, gereja tidak seharusnya mementingkan dirinya sendiri dan sibuk dengan ibadahnya saja agar tidak terperangkap dalam zona “ketidaknyamanan beragama”.
Manus menilai, gereja perlu terus memberdayakan diri dari segi kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. “Seperti duduk bersama dengan kaum muda yang secara alami lebih kreatif-inovatif dalam dunia digital,” tuturnya.
Diskusi yang berlangsung secara daring ini, juga menyentil pentingnya integrasi bentuk pelayanan keluar dan ke dalam yang mencakup aspek mengajar (teaching) dan menyembuhkan/pastoral (healing) yang disitir dari perkataan Ketua BPMS GMIM Pdt. Dr. Hein Arina serta dikaitkan dengan misi Bapak Diakonia GMIM Pdt. A.Z.R. Wenas dan Bapak PWG GMIM Pdt. R.M. Luntungan.
Diskusi menghangat dengan berbagai apresiasi, usul, tetapi juga keprihatinan yang menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap pelayanan gereja di era yang terus menerus berubah ini, antara lain:
“Pentingnya mengisi kebutuhan spiritual umat terutama para anak muda yang rentan dengan penyalah-gunaan teknologi media sosial,” – Sym. Nova Wulur.
“Pengajaran gereja yang kuat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai peluang terjadinya konspirasi informasi, fabrikasi kebohongan, dsb,” – Pnt. James Konjongian.
“Paradigma yang benar dibutuhkan untuk menyikapi penggunaan produk teknologi misalnya dalam kegiatan ibadah,” – Pnt. Laurens Kalesaran.
Webinar ini diakhiri dengan beberapa kesimpulan berikut.
- Gereja dan kepemimpinan gereja harus terbuka terhadap teknologi dan
transformasi digital. - Gereja dan kepemimpinan gereja harus bisa mengembangkan cara
berpikir kristis dan bijaksana menghadapi kompleksitas yang semakin
tinggi. - Gereja dan kepemimpinan gereja harus gesit bergerak dan mampu
mengelola jaringan (tidak hanya sekedar membuka) secara online. Untuk
itu dibutuhkan tipe kepemimpinan yang mampu mengelola jaringan yang
dengan kompetensi emosional yang teruji, tetap melayani/membina
dengan kasih dan kerendahan hati. - Gereja harus senantiasa memberikan ruang kepada anak muda yang
alaminya memiliki banyak ide (inovasi) yang bisa mendatangkan dampak
positif bagi pelayanan gereja.

Ibadah syukur perayaan HUT ke-27 wilayah Tomohon Dua digelar pada Sabtu (30/10/2021) lalu di jemaat GMIM Eben Haezar Woloan dan dilayani Pdt. Denny Paruntu, M.Th. Dalam khotbahnya, Paruntu menekankan sikap keterbukaan pelayanan GMIM terhadap teknologi dan transformasi digital.
Selanjutnya, Ketua Wilayah Tomohon Dua Pdt. Grace Rumengan-Ngantung, M.Th didampingi oleh BPMW dan para Ketua BPMJ mengungkapkan harapan terbaik untuk pelayanan ke depan. “Kiranya penuh persaudaraan dan terbuka terhadap peningkatan ke arah yang semakin baik,” kata Ngantung, kemudian dilanjutkan dengan peniupan lilin HUT wilayah.
Perayaan ini turut dihadiri oleh Camat Tomohon Barat, Meidy Pandey, S.Sos., dan para undangan dari 11 jemaat besar yang terhimpun dalam wilayah Tomohon Dua yang disambut baik oleh Pdt. Smita Goni-Manopo sebagai Ketua BPMJ.(dodokugmim/nandaelis)






































